Home Ekonomi Sistem Penentuan Harga Dalam Pasar Persaingan Tepat (Teori)

Sistem Penentuan Harga Dalam Pasar Persaingan Tepat (Teori)

3
0
Pada kesempatan yang sebelumnya kita pernah membahas bahwa harga pasar suatu produk tidak hanya ditentukan oleh permintaan  dan penawaran pasar, tetapi juga tergantung kepada jenis pasar itu sendiri. bahwa pada pasar dengan persaingan  murni para pengusaha yang menghasilkan suatu produk tertentu yang homogen dalam memperlihatkan produk-produk yang dihasilkannya di atas, produk tersebut melaksanakan persaingan atas dasar harga pasar yang telah tertentu. 

Pada kesempatan yang sebelumnya kita pernah membahas bahwa Sistem Penentuan Harga Dalam Pasar Persaingan Sempurna (TEORI)

Baca juga;
Pengertian Pasar Secara Umum dan Bentuk, Jenis, Fungsi Pasar
Pengertian dan Ciri – Ciri Pasar Persaingan Sempurna
#6 Kelebihan dan Kekurangan Pasar Persaingan Sempurna

Pengusaha produk tersebut secara perorangan tidak sanggup menghipnotis harga pasar yang telah ada, melainkan pengusaha itulah yang harus menyesuaikan usahanya dengan harga pasar yanbg telah ada itu. Konsumenpun secara perorangan tidak sanggup menghipnotis harga pasar. Artinya seorang konsumen tidak sanggup merubah harga pasar dengan jalan memperbesar atau memperkecil jumlah pembelian. 

Karena dalam pasar dengan persaingan tepat semua produk yang ditawarkan ialah homogen, yaitu semua produk yang ditawarkan ialah sama dalam segala hal, maka konsumen dalam memilih pembeliannya tidak tergantung pada siapa yang menjual produk itu melainkan kepada berapa harga produk tersebut. Dalam pasar dengan persaingan murni, tiap-tiap penjual dan/ masing-masing pembeli bebas untuk melaksanakan dan atau untuk tidak melaksanakan jual beli pada harga pasar yang telah ada itu. 

Tidak ikutnya suatu pengusaha dalam pasar itu, tidaklah akan mengakibatkan naiknya harga pasar, lantaran jumlah produk yang ditarik pengusaha itu dari pasar ialah sedemikian kecilnya sehingga sanggup diabaikan, bila dibandingkan dengan jumlah seluruh produk yang ditawarkan dalam pasar tersebut. 

Tidak adanya efek konsumen dan/ pengusaha secara perorangan pada pasar dengan persaingan sempurna, selain sebab-sebab di atas juga lantaran jumlah konsumen dan pengusaha dalam pasar dengan persaingan tepat ialah tidak terbatas, sampai arti suatu pengusaha dan atau seorang konsumen dalam pasar tersebut boleh dikatakan tidak ada.

Pada pasar suatu produk dengan persaingan sempurna, kurva ajakan bagi suatu pengusaha tertentu di pasar itu akan merupakan garis yang sejajar dengan sumbu horizontal yang ditarik melalui titik harga pasar produk tersebut menyerupai terlihat pada gambar di bawah ini

Permintaan Bagi Suatu Pengusaha Yang Bersaing Sempurna
Gambar diatas memperlihatkan tingkat harga pasar produk X yang bersaing secara murni. Pada mulanya harga pasar ialah sebesar P1 yang terbentuk lantaran danya ajakan dan penawaran pasar terhadap produk Y tersebut yang ditunjukkan oleh kurva D dan kurva S1. Pada tingkat harga pasar sebesar P1 itu ajakan terhadap suatu pengusaha produk Y tertentu ditunjukkan oleh kurva m1 pada gambar diatas. 

Kurva m1 ditarik melalui titik P1 sejajar dengan sumbu horizontal, dimana suatu sumbu horizontal memperlihatkan jumlah produk yang diminta pada harga tertentu. Kurva ajakan m1 ialah juga merupakan kurva nilai produk rata-rata (NPR) dan kurva nilai produk marginal (NPM) atau marginal revenue (MR) bagi pengusaha tertentu itu, sehingga:

P1 = MR1 = m1                        (1)

Berlakunya rumus (1) di atas ialah lantaran pada pasar produk yang bersaing secara murni, tiap-tiap pengusaha produk tersebut secara perorangan tidak sanggup menghipnotis harga pasar produk itu dengan jalan merubah jumlah produk yang ditawarkannya. Artinya berapapun jumlah produk yang ditawarkannya, harga pasar produk tersebut akan tetap konstan. 

Karenanya kurva NPR suatu pengusaha produk yang bersaing secara murni tidak akan pernah naik dan tidak akan pernah pula turun, yang berarti harus sejajar dengan sumbu horizontal yang ditarik melalui titik harga pasar produk yang ada. Juga lantaran NPM/MR pengusaha tertentu itu tidak akan pernah pula lebih kecil, atau lebih besar dari kurva NPR/MR sebagai akhir dari pasar produk yang bersaing secara murni. Nilai produk total (Total Revenue) yang diperoleh oleh pengusaha tertentu dalam pasar dengan persaingan tepat adalah:


TR = P1Y                                                                  (2)


Dimana Y ialah jumlah produk yang ditawarkan dan H1 ialah harga satuan produk dengan persaingan sempurna.

Dari rumus (2) di atas sanggup ditarik kesimpulan bahwa TR suatu pengusaha produk Y yang bersaing secara murni hanya dipengaruhi oleh jumlah produk yang ditawarkan lantaran harga pasar bagi pengusaha tersebut (P1) ialah konstan. Kaprikornus kurva TR suatu pengusaha produk Y yang bersaing secara murni merupakan garis lurus miring dari kiri ke kanan, dimana kemiringannya ialah sebesar harga pasar (P1) atau tg a pada gambar 45b ialah sama dengan P1 atau dengan rumus:   

tg a = P                                                                (3)

dimana tg a ialah kemiringan TR dan P ialah harga pasar produk Y.

Andaikata seorang pengusaha tertentu tadi menarik diri dari pasar, yang berarti tidak satupun produk Y yang dihasilkannya ditawarkan di pasar yang bersaing secara murni itu, maka TR yang diperoleh ialah nol. Tetapi kalau pengusaha tersebut hanya memperlihatkan sebanyak satu satuan produk, maka TR yang diperolePnya adalaP sebesar P1 rupiah pada ketika harga pasar sebesar P1rupiah. Kaprikornus kurva TR  bagi suatu pengusaha tertentu tadi bersudut positf dengan sumbu horizontal menyerupai sanggup dilihat pada gambar 45b.

Selanjutnya, bila kita misalkan harga pasar produk Y turun menjadi P2 lantaran adanya pergeseran kurva penawaran pasar dari S1 menjadi S2 dan ajakan pasar tetap D, maka dengan sendirinya juga terjadi pergeseran kurva bagi pengusaha tersebut tadi. Kurva ajakan bagi suatu pengusaha tertentu tadi bergeser menjadi m2, yaitu kurva yang ditarik melalui P2 sejajar dengan sumbu horizontal. Kurva m2 juga merupakan kurva NPR dan MR yang gres bagi pengusaha tersebut. 

Kurva TR bergeser pula menjadi kurva TR’ dimana tg b harus sama dengan P2, jadi sanggup disimpulkan bahwa perubahan ajakan bagi suatu pengusaha produk Y yang bersaing secara muirni hanya terjadi lantaran perubahan harga pasar produk Y, yang tidak sanggup dipengaruhi oleh pengusaha tersebut secara perorangan. Perubahan harga pasar hanya terjadi lantaran adanya perubahan pada kurva ajakan pasar ataupun lantaran perubahan kedua kurva itu.

Telah diuraikan bahwa TR yang diperoleh pengusaha tidak dipengaruhi oleh harga, lantaran harga pasar tidak sanggup dikendalikan oleh pengusaha tersebut secara perorangan, sampai TR pengusaha tersebut ditentukan oleh jumlah produk yang dihasilkannya. Makin banyak produk yang dihasilkannya untuk pasar makin besar pula TR yang diperoleh dan juga sebaliknya. 

Tetapi seorang pengusaha bukanlah bertujuan untuk memperoleh TR yang maksimum, melainkan mengusahakan laba yang maksimum. Keuntungan maksimum selain ditentukan oleh harga pasar produk, juga sangat tergantung kepada biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut. secara grafik disajikan pada gambar di bawah. 
Keuntungan Maksimum Suatu Perusahaan Bersaing Sempurna

Pada gambar diatas terlihat kurva biaya total (TC) seorang pengusaha produk Y yang disertai dengan kurva nilai produk total (TR) perusahaan tersebut. Bentuk kurva TC ialah menyerupai abjad S. Sedangkan kurva TR merupakan garis lurus miring yang bersudut faktual dengan sumbu horizontal dimana tg a sama dengan harga pasar produk Y yang bersaing murni itu.

Jika pengusaha tersebut menjalankan usahanya dengan kapasitas produksi sebesar Y0 satuan, maka pengusaha tersebut akan menderita kerugian maksimum, lantaran pada tingkat produksi sebesar Y0 itu kurva TC berada di atas kurva TR dengan jarak terjauh. Jika kapasitas produksi yang dijalankan pengusaha tersebut sebesar antara 0 dengan Y1 atau lebih besar dari Y2, pengusaha tersebut akan menderita kerugian, lantaran kurva TC berada di atas kurva TR. 

Selanjutnya bila kapasitas yang dijalankan oleh pengusaha tersebut persis sebesar Y1 atau sebesar Y2 perusahaan tersebut tidak mengalami kerugian lagi, tetapi juga belum memperoleh keuntungan. Kalau pengusaha tersebut menjalankan usahanya dengan kapasitas produksi sebesar kapasitas Y produk, laba yang diperoleh oleh pengusaha tersebut ialah maksimum, lantaran pada tingkat itu, kurva TC berada di bawah kurva TR yang memiliki jarak terjauh. Jika perusahaan tersebut dijalankan dengan kapasitas produksi antara Y1 dengan Y atau antara Y dengan Y2, perusahaan tersebut masih beruntung lantaran kurva TC tetap masih berada di bawah kurva TR.

Jadi sebagai tanggapan terhadap persoalan yang dikemukakan tadi sanggup disimpulkan bahwa pengusaha produk Y yang bersaing secara murni itu, pada ketika harga satuan produk Y yang dihasilkannya haruslah terletak pada titik singgung antara TC yang berada di bawah TR. Dalam gambar 46 produk Y yang dihasilkan haruslah sebesar Y satuan , lantaran dengan kapasitas produksi sebesar Y satuan itulah harga satuan produk sama dengan kemiringan kurva TR dan sama pula dengan kemiringan kurva TC dan TC berada di bawah TR.

Karena kemiringan TC sama dengan biaya marginal (MC) dan harga satuan produk sama dengan nilai produk marginal (MR) dan nilai produk rata-rata (NPR) dan kurva ajakan (lihat rumus 1), maka sanggup pula disimpulkan bahwa supaya suatu perusahaan produk Y yang bersaing secara murni mendapat laba maksimum, haruslah perusahaan tersebut dijalankan dengan kapasitas produksi sedemikian rupa sehingga:


MC = Py                       (4)


Berdasarkan rumus 4 di atas, sanggup pula kita gambarkan kemungkinan-kemungkinan kapasitas produksi suatu perusahaan yang bersaing secara murni bila diketahui fungsi biaya marginal perusahaan tersebut, menyerupai akan dijalankan dengan Gambar di bawah.


Gambar dibawah memperlihatkan struktur biaya suatu perusahaan yang bersaing secara murni. Struktur biaya itu terdiri dari biaya marginal (MC), biaya total rata-rata (AC), biaya variabel rata-rata (AVC) dan biaya tetap rata-rata (AFC). Syarat untuk tercapainya laba maksimum ialah apabila MC sama dengan harga (lihat rumus 4).

Hubungan Harga dengan Kapasitas Produksi Suatu Perusahaan Yang Bersaing Sempurna
Apabila harga satuan pasar produk Y sebeesar P1 rupiah, maka kapasitas produksi perusahaan tersebut supaya tercapai laba maksimum haruslah sebesar Y1 satuan. Pada kapasitas produksi sebesar Y1 satuan itu, nilai produk rata-rata yang diperoleh pengusaha tersebutr ialah sebesar Y1K atau 0P1 rupiah. Biaya rata-rata yang diharapkan untuk menghasilkan sebesar Y1 satuan itu ialah sebesar Y1L atau 0P1 rupiah. Kaprikornus laba maksimum yang diperoleh ialah sebesar Y1K – Y1L yakni sebesar KL atau C1P1 rupiah untuk setiap satu satuan produk yang dihasilkan.

Jika harga satuan pasar produk Y turun menjadi P2 rupiah (persis pada titik potong MC dengan AC), maka kapasitas produksi yang dijalankan perusahaan tersebut supaya tercapai laba maksimum (sesuai dengan rumus 4) haruslah sebanyak Y2 satuan. Pada kapasitas produksi sebanyak Y2 itu biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk satu satuan produk ialah sebesar Y2M atau 0P2 rupiah. Nilai produk rata-rata yang diperoleh juga sama dengan 0P2 rupiah. Kaprikornus perusahaan tersebut secara perhitungan tidak lagi untung, walaupun yang bekerjsama masih untung lantaran dalam AC telah termasuk biaya tetap rata-rata, termasuk honor pengelola perusahaan. 

Andaikata harga satuan pasar produk Y turun lagi menjadi P3 (persis pada titik potong MC dengan AVC), maka kapasitas produksi yang harus dijalankan ialah sebesar Y3 satuan (sesuai dengan rumus 4). Dengan kapasitas produksi sebesar Y3 satuan ini, secara perhitungan pembukuan, perusahaan sudah rugi, lantaran nilai produk rata-rata sudah lebih kecil daripada biaya total rata-rata. Kerugian berdasarkan perhitungan itu ialah sebesar PQ rupiah untuk setiap satu satuan produk. Dalam keadaan demikian perusahaan tersebut ada dalam keadaan indiferen apakah mau melanjutkan atau menghentikan produksinya. Sebab dalam kedua alternative tersebut, seluruh biaya tetap rata-rata itu tidak sanggup tertutupi.

Sekiranya harga turun lagi menjadi di bawah P3, contohnya antara P3 dan P4, perusahaan tersebut sudah seharusnya ditutup atau dilarang kegiatannya untuk berproduksi, lantaran kalau ia masih meneruskan produksinya antara Y3 dengan Y4, kerugian yang diderita perusahaan menjadi lebih besar yaitu tidak hanya biaya tetap rata-rata yang tidak tertutupi, sebagian dari biaya variable rata-rata pun tidak tertutupi lantaran nilai produk rata-rata yang diperolehnya sudah lebih kecil daripada besarnya biaya variable rata-rata yang harus dikeluarkan.

Dengan demikian sanggup disimpulkan bahwa harga sebesar P3 merupakan harga  batas  bagi  perusahaan  tersebut.  Artinya  bila  harga sedikit saja berada di bawah P3 perusahaan harus ditutup dan sebaliknya sedikit saja berada di atas P3 perusahaan tersebut akan dijalankan kembali. Atau dengan kata lain, pada harga sebesar P3 produksi sama dengan nol satuan.


Demikian ulasan artikel kami terkait dengan teori Sistem Penentuan Harga Dalam Pasar Persaingan Sempurna yang kami rangkum dari buku bacaan kami. Mohon maaf bila ada kesalahan dan kekurangan . Semoga bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung.

Sumber: Hariyati, Yuli. 2007. Ekonomi Mikro. Jakarta: CSS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here