Penelitian Tindakan Kelas: Definisi, Karakteristik,Dan Jenis

Dewi Vista Pramawati Penulis Penelitian Tindakan Kelas PTK Penelitian Tindakan Kelas: Definisi, Karakteristik,dan Jenis
Oleh: Dewi Vista Pramawati, SH | Guru dan Penulis

Tulisan ini akan mengulas perihal penelitian tindakan kelas (PTK) dengan cara yang seringkas dan sejelas mungkin dari banyak sekali sumber yang sanggup dipercaya. Setelah membaca goresan pena ini, Anda diharapkan bisa memahami penelitian tindakan kelas dengan terang dan terang benderang.

Tulisan mengenai topik ini akan dibagi menjadi dua tulisan. Yang pertama ialah perihal definisi atau pengertian, karakteristik,jenis, dan keterbatasan penelitian tindakan kelas atau yang nanti akan kita singkat dengan PTK. Tulisan kedua membahas perihal bagaiamana cara melaksanakan PTK. 
Baiklah, akan kami uraikan satu persatu goresan pena pertama ini dengan sistematika sebagai berikut: 
  • Definisi atau pengertian PTK
  • Karakteristik PTK
  • Jenis  PTK
  • Refleksi PTK

A. Definisi atau Pengertian Penelitian Tindakan Kelas


Terdapat banyak sekali macam definisi atau pengertian dari PTK. Untuk mempermudah pemahaman, pembahasan mengenai definisi PTK diuraikan pada paragraf berikut.

PTK merupakan jenis dari penelitian tindakan (action research). Karena penelitian dilakukan terutama di ruang kelas, maka PTK merupakan penelitian tindakan yang dilakukan di ruang kelas sehingga sesuai dengan namanya yaitu penelitian tindakan kelas (classroom action research). 
Penelitian tindakan sendiri merupakan penelitian atau penyelidikan yang dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan mutu dan kinerja organisasi. Ia dirancang dan dilakukan oleh praktisi dengan tujuan untuk meningkatkan atau memperbaiki praktik dari pekerjaan mereka. 
Dalam konteks sekolah, penelitian tindakan itu sendiri berpotensi untuk menghasilkan perbaikan organisasi sekolah secara orisinal dan berkelanjutan. Ia memberi ruang bagi guru atau pendidik untuk melaksanakan refleksi dan penilaian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Ia juga berkhasiat untuk menggali dan menguji inspirasi baru, materi pembelajaran, dan penilaian terhadap pendekatan pembelajaran. Lebih jauh, penelitian tindakan sanggup juga dipakai untuk membagi umpan balik dengan rekan sesama guru serta untuk menciptakan keputusan mengenai pendekatan-pendekatan gres yang mungkin saja akan dimasukkan sebagai materi kajian kurikulum, instruksi, dan planning penilaian pembelajaran. 
Karena diterapkan di sekolah, penelitian tindakan akan selalu bekerjasama dengan pemeriksaan atau penyelidikan mengenai tindakan insan yang dialami oleh penerima didik, guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan stakeholder sekolah lainnya. 
Dengan demikian, pengertian atau definisi dari penelitian tindakan kelas (PTK) ialah jenis dari penelitian tindakan yang diimplementasikan atau diterapkan dalam konteks sekolah yang dirancang oleh pendidik dengan tujuan meningkatkan atau memperbaiki praktik dari pekerjaan mereka sebagai pendidik guna meningkatkan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan.

B. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 

Ada delapan macam karakteristik PTK yang akan kami uraikan sebagai berikut:

  • Penelitian tindakan kelas menginvestigasi hal-hal yang dianggap oleh oleh guru sebagai: 
  1. Tindakan insan dan situasi sosial yang dianggap sebagai permasalahan dalam pembelajaran
  2. Tindakan insan dan situasi sosial yang dianggap memerlukan perubahan dalam kerangka pembelajaran
  3. Tindakan insan dan situasi sosial yang dianggap perlu untuk ditanggapi dalam kerangka praktik pembelajaran

PTK berkaitan dengan praktik keseharian seorang guru dalam menjalankan kiprah profesionalnya. Oleh lantaran itu, ia berbeda dengan jenis penelitian lainnya yang lebih menekankan pada permasalahan teoritis yang dihadapi oleh peneliti. Dengan demikian, penelitian dilakukan oleh guru atau tim jago yang ditugasi untuk melaksanakan PTK.

  • Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah untuk memperdalam pengetahuan guru mengenai permasalahannya dalam kaitan terutama dengan pembelajaran. 
  • PTK mengadopsi sebuah cara teoritis dimana rangkaian tindakan untuk mengubah situasi terlebih dahulu ditunda hingga terdapat pengetahuan yang lebih mendalam mengenai permasalahan mudah yang terjadi benar-benar diketemukan. 
  • Dalam menjelaskan mengenai apa yang terjadi, PTK akan menguraikan perihal insiden dengan cara mengkaitkannya dengan sebuah konteks kemungkinan-kemungkinan yang saling mempunyai ketergantungan. 

Uraian semacam ini disebut dengan studi kasus. Cara menguraikannya lebih kepada hal-hal yang bersifat naturalistik atau alamiah atau sesuai dengan apa yang dialami daripada penguraian dengan cara yang formalistik. Hubungan antarkemungkinan atau antarkejadian dicerahkan dengan deskripsi konkrit daripada dengan pernyataan formal mengenai kekerabatan sebab-akibat atau kekerabatan statistik.

  • PTK menafsirkan apa yang terjadi dari sudut pandang pelaku yang berinteraksi pada situasi permasalahan. Sebagai contoh, kekerabatan guru-murid atau guru-kepala sekolah.

Kejadian ditafsirkan sebagai tindakan insan dan bukan sebagai proses ilmiah yang menjadi kajian ilmu pasti. Penafsiran dilakukan dalam kerangka kondisi yang dirumuskan atau diasumsikan. Berikut ialah pola dari kondisi yang dirumuskan:

– Pemahaman dan keyakianan mengenai situasi yang dihadapi peneliti
– Maksud dan tujuan peneliti
– Pilihan-pilihan dan rangkaian keputusan
– Pengakuan terhadap norma, prinsip, dan nilai dalam mendiagnosis, tetapkan tujuan, dan pemilihan rangkaian tindakan

  • Karena PTK melihat situasi dari sudut pandang partisipan, maka ia akan mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai apa yang terjadi dengan cara yang lebih alamiah daripada formalistik. Dengan demikian, ia memakai bahasa umum yang sering dipakai oleh orang-orang untuk menggambarkan dan menjelaskan tindakan insan dan situasi sosial dalam kehidupan sehari-hari. 
  • Karena penelitian tindakan kelas (PTK) melihat permasalahan atau situasi dari sudut pandang mereka yang terlibat, maka ia hanya sanggup divalidasi oleh obrolan yang tak dibatasi oleh para partisipan tersebut. 

PTK memerlukan refleksi diri dari para partisipan mengenai situasi yang dialami oleh mereka sebagai partner aktif dalam penelitian. Catatan dari obrolan yang dilakukan partisipan mengenai penafsiran dan klarifikasi mengenai situasi yang terjadi haruslah menjadi belahan yang tidak terpisahkan dari laporan penelitian. 

  • Karena PTK melibatkan obrolan yang tidak dibatasi antara peneliti dengan partisipan, maka haruslah terdapat informasi jujur yang mengalir antara kedua pihak pada ketika penelitian dilakukan. 

Partisipan haruslah mempunyai saluran yang bebas terhadap data, tafsiran, dan hal lain yang dipikir perlu yang dipunyai oleh peneliti. Demikian sebaliknya, peneliti haruslah mempunyai saluran bebas terhadap apa yang terjadi, interpretasi partisipan terhadap apa yang terjadi, dan catatan partisipan mengenai apa yang terjadi. Oleh lantaran itu, penelitian tindakan kelas tidak bisa dilakukan secara baik kalau tidak terdapat kepercayaan antara peneliti dengan partisipan. Kepercayaan seharusnya tumbuh dari kerangka etis yang disetujui terutama mengenai pengumpulan, penggunaan, dan rilis dari data penelitian. 

C. Jenis-jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 

Pada dasarnya ada empat jenis dari PTK. Setiap jenis penelitian tindakan kelas mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Berikut ialah uraian mengenai jenis-jenisnya.

  • Jenis PTK yang pertama ialah diagnostik. 

Penelitian tindakan kelas jenis ini dirancang untuk menghasilkan keluaran yang akan dipakai untuk memilih tindakan. Pada jenis ini, peneliti memasuki permasalahan yang sedang terjadi dan kemudian mendiagnosisnya untuk menghasilkan keluaran penelitian yang kemudian dijadikan masukan bagi pengambil tindakan (guru, kepala sekolah, dan stakeholder yang lain) untuk mengambil tindakan sesuai keluaran dari penelitian tersebut.

Sebagai contoh, kepala sekolah meminta guru tertentu untuk melaksanakan penelitian terhadap permasalahan vandalisme di sekolah. Contoh lain contohnya seorang kepala sekolah sanggup meminta dukungan pengawas sekolah untuk melaksanakan kunjungan ke sekolah dan melaksanakan pemeriksaan terhadap permasalahan tertentu.

  • Jenis penelitian tindakan kelas kedua ialah PTK partisipan

Tujuan utama dari PTK jenis ini ialah untuk menyempurnakan PTK jenis diagnostik. Pemikiran dasarnya ialah bahwa orang-orang yang terkait dengan tindakan yang akan diambil haruslah dilibatkan dalam proses penelitian sejak awal. Hal ini diharapkan tidak hanya akan mendorong para partisipan untuk lebih menyadari perihal kebutuhan untuk aktivitas tindakan tertentu yang akan diputuskan kemudian, namun juga “kepentingan mereka” juga diakomodasi dalam aktivitas tindakan. Tanpa kerja sama ini, diagnosis dan rekomendasi untuk perubahan cenderung hanya akan memicu ketidaknyamanan, perlawanan, dan pembenaran daripada motivasi untuk melaksanakan perubahan.

Penelitian Tindakan Kelas Partisipan juga sanggup dianggap sebagai jenis khusus dari PTK Diagnostik. Jika dipertimbangkan sebagai sebuah teknik penelitian, ia ialah metode yang hanya sanggup dipakai untuk menuntaskan kisaran permasalahan yang sangat terbatas. Seperti halnya PTK Diagnostik, PTK jenis ini hanya menghasilkan fakta dasar mengenai hal yang terjadi pada lingkungan sekolah tertentu daripada menghasilkan prinsip-prinsip umum yang sanggup diterapkan oleh sekolah atau lingkungan pembelajaran yang lain. PTK jenis ini lebih sempurna digolongkan sebagai jenis khusus dari teknik tindakan daripada sebagai sebuah jenis khusus dari penelitian.

Jika dipertimbangkan sebagai teknik tindakan, derajat presisi atau ketepatan dari temuan penelitian dipertimbangkan kurang penting selama tindakan diarahkan pada pengambilan keputusan tertentu. Karena bersifat kolaboratif, maka tentu saja jenis PTK ini rentan memunculkan kerancuan metodologis lantaran peneliti akan berkolaborasi dengan orang lain yang mungkin saja awam dalam hal penelitian ilmiah dan kebutuhan untuk mengambil tindakan bisa saja bertabrakan dengan kaidah penelitian.

Permasalahan yang mungkin akan muncul pada PTK jenis ini terutama disebabkan oleh derajat dimana proses penelitian sanggup disederhanakan. Sebagai contoh, derajat dimana kebutuhan akan wawancara yang mendalam direduksi menjadi proses polling atau pengisian angket. Hal ini tentu saja menjadi dilema tersendiri mengingat proses polling atau pengisian angket pastilah melibatkan proses statistik yang lebih rumit dan sering kali item pertanyaan yang diajukan pada polling atau angket tersebut bisa saja sanggup dipertanyakan validitasnya. Contoh yang lain ialah derajat dimana keterampilan penelitian yang diharapkan ditularkan kepada orang yang lebih awam mengenai PTK atau derajat dimana kerja sama teknis antara peneliti dengan rekannya diperlukan. Hal ini sangatlah penting untuk mencapai integrasi atau penyatuan antara peneliti jago dengan kolaboratornya.

Contoh PTK partisipan: Pengawas sekolah tetapkan untuk menjadi belahan dari tim penelitian yang sedang mencoba untuk menemukan tanggapan dan solusi dari permasalahan tertentu yang terjadi di sekolah. Dengan cara ini, sang pengawas tidak hanya berperan sebagai konsultan saja, namun juga belahan dari peneliti.

  • Jenis penelitian tindakan kelas yang ketiga ialah PTK empiris

Ide atau pemikiran dasar dari PTK jenis ini ialah melaksanakan sesuatu dan menciptakan catatan mengenai apa yang telah dilakukan dan apa yang telah terjadi. Proses penelitian terutama berkaitan dengan pembuatan catatan dan mengumpulan serta mengakumulasi pengalaman atau apa yang terjadi pada lingkungan kerja sehari-hari.

Secara ideal, PTK empiris dilakukan dengan menerapkan pemeriksaan atau penyelidikan pada banyak sekali kelompok yang sejenis atau mempunyai kemiripan karakter. Pada awalnya, si peneliti menulis perihal metode yang akan dipakai pada kelompok tertentu dan menyatakan hipotesis atau dugaan sementara mengenai perubahan yang akan terjadi dalam konteks sikap dan sikap anggota kelompok. Selama melaksanakan kontak dengan kelompok tersebut, si peneliti mencatat apa yang beliau kerjakan, insiden apa saja yang mungkin mempunyai imbas terhadap para anggota kelompok, dan perubahan apa saja yang terjadi pada kelompok tersebut. Pada tamat penelitian, sang peneliti menciptakan catatan mengenai apakah hipotesisnya terbukti atau tertolak.

Kelemahan menempel pada PTK empiris ialah bahwa kesimpulan yang didapat baik dari kelompok tunggal maupun kelompok jamak terdapat perbedaan-perbedaan dengan cara yang tidak terkendali. Hal ini menjadi logis mengingat bahwa penelitian dilakukan pada lingkungan yang tidak di-setting seperti halnya penelitian di laboratorium dimana imbas dari variabel lain sanggup dikendalikan oleh peneliti sehingga hasil penelitian di laboratorium sanggup lebih gampang memenuhi unsur validitas internal atau kadar keyakinan yang tinggi dari si peneliti bahwa hanya variabel yang ia telitilah yang sejatinya besar lengan berkuasa terhadap subjek yang diteliti.

Namun demikian, penelitian tindakan kelas empiris sanggup menuntun kepada pengembangan sedikit demi sedikit terhadap prinsip yang sanggup berterima umum. Inilah yang disebut sebagai validitas eksternal yang merupakan kelebihan menempel pada tipe penelitian dimana setting alami lingkungan penelitian diberlakukan ibarat pada PTK jenis ini.

PTK jenis ini, peneliti bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tindakan dan juga pelaksanaan penelitian. Hal ini tentu saja memberi laba terhadap peneliti lantaran ia secara otomatis memungkinkan peneliti memperoleh pengetahuan secara penuh terhadap hal-hal terperinci mengenai apa yang sedang diteliti. Namun demikian, penelitian tindakan kelas empiris juga mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:

  1. Kesulitan dalam merumuskan hipotesis atau dugaan sementara. Kelemahan pada hal ini sanggup diatasi tentu saja dengan mempelajari jenis penelitian yang lebih formal. Anda sanggup membaca banyak sekali buku yang membahasnya. Buku yang manis contohnya ialah buku karangan Uma Sekaran dengan judul Research Methods for Business atau Buku karangan Fred N. Kerlinger dengan judul Foundations of Behavioral Research. Buku-buku tersebut juga tersedia dalam bentuk buku terjemahan. Ya memang tidak ada sesuatu yang semudah membalik telapak tangan. Semua perlu usaha. 
  2. Peneliti yang juga merangkap sebagai pengambil tindakan mungkin saja mengalami kesulitan dalam mengalokasikan waktu untuk mencatat pengamatannya secara penuh lantaran beberapa faktor. Faktor yang sering dialami oleh guru, misalnya, ialah lantaran beban pekerjaan administratif yang sedemikian tinggi. 
  3. Jika pencatatan dipikir memadai, akan ada terlalu banyak materi yang harus dikumpulkan sehingga memerlukan perjuangan yang luar biasa untuk melaksanakan analisis secara tuntas. Ketergesaan dan kekurangcermatan juga seringkali menciptakan peneliti untuk menciptakan dan memproses data seadanya sehingga tentu saja validitas penelitian menjadi layak untuk dipertanyakan. Hal ini kemungkinan kecil akan terjadi kalau saja si peneliti tindakan kelas mempunyai integritas akademik dan tidak hanya mengejar formalitas atau menimbulkan penelitiannya hanya sekedar formalitas belaka. Maka saran yang sempurna bisa jadi ialah pada perbaikan niat. 
  4. Hambatan klasik selanjutnya ialah pada masalah objektivitas. Faktor eksternal bisa saja mempengaruhi apa yang terjadi pada kelompok yang diteliti dan penafsiran atas hal tersebut oleh peneliti sanggup menjadi bias lantaran subjektivitas peneliti. Hal ini mungkin saja menimbulkan peneliti untuk mengambil kesimpulan pada skenario atas uji hipotesis yang sangat bermuatan subjektif. 

Contoh PTK jenis ini contohnya guru ingin menguji efektivitas model pembelajaran tertentu kepada kelompok tertentu.

  • Jenis penelitian tindakan kelas keempat ialah PTK Eksperimental

Karena bersifat eksperimental, PTK jenis ini tentu saja dilakukan dengan lingkungan penelitian yang dikendalikan untuk mengontrol adanya faktor lain yang besar lengan berkuasa terhadap subjek permasalahan yang sedang diteliti. Hal ini mempunyai kemiripan dengan penelitian laboratorium dimana peneliti menciptakan lingkungan penelitian yang diusahakan sebaik mungkin steril dari imbas variabel pengganggu. Berkebalikan dengan PTK empiris, keunggulan penelitian tindakan kelas eksperimental mempunyai keunggulan dalam hal validitas internal dan mempunyai kelemahan dalam hal validitas eksternal.

Secara sederhana, PTK jenis ini mencoba untuk menguji banyak sekali efektivitas tindakan. Hal ini muncul dari inspirasi dasar bahwa ada banyak sekali cara untuk menuntaskan suatu permasalahan tertentu. Permasalahan terletak pada cara apa yang paling efektif dalam menuntaskan permasalahan tersebut. Inilah jenis PTK yang berdasarkan para jago digolongkan sebagai yang paling ketat.

Contoh penelitian tindakan kelas eksperimental contohnya guru ingin menguji banyak sekali macam metode pembelajaran dan memilih mana yang paling efektif.

D. Refleksi PTK

Evaluasi yang teratur seharusnya dilakukan oleh seorang guru untuk mengukur efektivitas pekerjaannya terhadap pembelajaran. Penelitian tindakan kelas seharusnya dijadikan alat (tool) oleh guru untuk mengukur seberapa efektif apa yang ia tindakkan terhadap peningkatan mutu pembelajaran siswa di kelas. Dengan demikian, PTK sanggup dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pekerjaan guru tersebut.

Guru sanggup memakai catatan harian dalam banyak sekali format untuk mencatat melaksanakan penilaian terhadap praktik pekerjaannya sehari-hari dan juga untuk lebih menggali apa yang menjadi praktik kesehariannya dalam konteks pembelajaran. Dengan rajin mencatat, guru sanggup menemukan pola dan kekerabatan yang muncul pada pekerjaan mengajarnya. Pengetahuan yang didapat dengan cara ini kemudian sanggup dijadikan sebagai input atau masukan untuk mengambil tindakan pembelajaran yang sanggup diterapkan di ruang kelas.Tindakan pembelajaran tersebut kemudian diamati, dicatat, dan dianalisis kembali apakah sudah cukup efektif dalam menuntaskan permasalahan pembelajaran. Hal ini kemudian dilakukan secara berulang-ulang hingga dengan ditemukan cara atau metode yang paling efektif.

Ketika melaksanakan penelitian, si peneliti sanggup memulainya dengan berasumsi. Asumsi-asumsi tersebut bisa jadi benar atau salah. Namun perlahan, peneliti sanggup menemukan bahwa asumsinya membentuk keputusan dan tanggapannya dan peneliti tersebut kemudian sanggup melaksanakan perenungan mengenai beberapa alternatif tindakan. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dari proses penelitian sanggup dijadikan sebagai sarana untuk peningkatan kualitas mengajar dan pembelajaran oleh penerima didik pada situasi pendidikan tertentu atau sekolah tertentu.

Penelitian tindakan kelas dimiliki dan dijalankan oleh guru. Ia dimulai dengan sebuah permasalahan atau pertanyaan yang diidentifikasi sebagai hal yang perlu diubah dengan mengambil tindakan pembelajaran. PTK memberitahukan atau menceritakan apa yang ditindakkan guru dan bagaimana guru menafsirkan apa yang terjadi. PTK memerlukan kerja sama atau kerjasama dengan guru lain.

PTK ialah sebuah proses. Seperti halnya menulis, ia bersifat rekursif atau berulang. Dimulai dari perencanaan berlanjut ke pengajaran, berlanjut ke pengamatan, dan berlanjut ke refleksi. Diulang lagi dari perencanaan dan seterusnya sehingga membentuk sebuah siklus. Gambar berikut menjelaskan mengenai siklus penelitian tindakan kelas atau siklus PTK:

Dewi Vista Pramawati Penulis Penelitian Tindakan Kelas PTK Penelitian Tindakan Kelas: Definisi, Karakteristik,dan Jenis
Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Tulisan mengenai Penelitian Tindakan Kelas (PTK)  ini akan dilanjutkan pada goresan pena kedua yang membahas mengenai bagaimana cara melaksanakan PTK

Referensi: 
Seameo-Innotech.com 
Sekaran, Uma. Research Methods for Business
Kerlinger, Fred N. Foundations of Behavioral Sciences
You might also like
close