Home Bahasa Indonesia Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (Puebi) Yang Disempurnakan ( Eyd ) Terbaru...

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (Puebi) Yang Disempurnakan ( Eyd ) Terbaru 2018

10
0

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru-Sahabat pembaca, EYD yang terbaru yang digunakan sebagai pedoman pada tahun 2018 ini yaitu buku pedoman EYD yang sesuai dengan Salinan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Dengan berlakunya PUEBI, maka Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (PUEYD) sudah tidak berlaku. Mari kita mulai mencar ilmu membiasakan memakai singkatan EBI (bukan EYD).

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru 2018
Salinan Permendikbud RI Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. PP tersebut ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 November 2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ( .Anies Baswedan ) dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 November 2015 oleh Direktur Jenderal Peraturan Perundang-Undangan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Widodo Ekatjahjana).

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru 2018
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)Edisi IV (keempat) Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud

Adapun Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia sebagai berikut:

I. Pemakaian Huruf
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf berikut.

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru 2018

B. Huruf VokalHuruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru 2018

Keterangan:
Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik berikut ini sanggup digunakan jikalau ejaan kata itu sanggup menjadikan keraguan.

1. Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Kedelai merupakan materi pokok kecap (kécap).

2. Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].
Misalnya:
Kami menonton film seri (sèri).
Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.

3. Diakritik (ê) dilafalkan [ə].
Misalnya:
Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank Indonesia.
Kecap (kêcap) dulu makanan itu.

C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf, yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru 2018

Keterangan:

  • Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu. Huruf x pada posisi awal kata diucapkan [s].

D. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat diftong yang dilambangkan dengan adonan huruf vokal ai, au, ei, dan oi.

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru 2018

E. Gabungan Huruf Konsonan
Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.

Download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia  Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru 2018

F. Huruf Kapital

1. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:

Apa maksudnya?
Dia membaca buku.
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.

2. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.

Misalnya:

Amir Hamzah
Dewi Sartika
Halim Perdanakusumah
Wage Rudolf Supratman
Jenderal Kancil
Dewa Pedang
Alessandro Volta
André-Marie Ampère
Mujair
Rudolf Diesel

Catatan:
a. Huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:

ikan mujair
mesin diesel
5 ampere
10 volt

b. Huruf kapital tidak digunakan untuk menuliskan huruf pertama kata yang bermakna ‗anak dari‘, menyerupai bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama kata tugas.
Misalnya:

Abdul Rahman bin Zaini
Siti Fatimah binti Salim
Indani boru Sitanggang
Charles Adriaan van Ophuijsen
Ayam Jantan dari Timur
Mutiara dari Selatan

3. Huruf kapital digunakan pada awal kalimat dalam petikan langsung.

Misalnya:

Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Orang itu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
“Mereka berhasil meraih medali emas,” katanya.
“Besok pagi,” kata dia, “mereka akan berangkat.”

4. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

Islam
Alquran
Kristen
Alkitab
Hindu
Weda
Allah
Tuhan

Allah akan memperlihatkan jalan kepada hamba-Nya.
Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.

5. a. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:

Sultan Hasanuddin
Mahaputra Yamin
Haji Agus Salim
Imam Hambali
Nabi Ibrahim
Raden Ajeng Kartini
Doktor Mohammad Hatta
Agung Permana, Sarjana Hukum
Irwansyah, Magister Humaniora

b. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang digunakan sebagai sapaan.
Misalnya:

Selamat datang, Yang Mulia.
Semoga berbahagia, Sultan.
Terima kasih, Kiai.
Selamat pagi, Dokter.
Silakan duduk, Prof.
Mohon izin, Jenderal.

6. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang digunakan sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:

Wapres Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gubernur Papua Barat

7. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:

bangsa Indonesia
suku Dani
bahasa Bali

Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:

pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan

8. a. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari besar atau hari raya.
Misalnya:

tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Idulfitri hari Natal

b. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur nama insiden sejarah.
Misalnya:

Konferensi Asia Afrika
Perang Dunia II
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Catatan:
Huruf pertama insiden sejarah yang tidak digunakan sebagai nama tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.

9. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:

Jakarta Asia Tenggara
Pulau Miangas Amerika Serikat
Bukit Barisan Jawa Barat
Dataran Tinggi Dieng Danau Toba
Jalan Sulawesi Gunung Semeru
Ngarai Sianok Jazirah Arab
Selat Lombok Lembah Baliem
Sungai Musi Pegunungan Himalaya
Teluk Benggala Tanjung Harapan
Terusan Suez Kecamatan Cicadas
Gang Kelinci Kelurahan Rawamangun

Catatan:
a. Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:

berlayar ke teluk mandi di sungai
menyeberangi selat berenang di danau

b. Huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:

jeruk bali (Citrus maxima)
kacang bogor (Voandzeia subterranea)
nangka belanda (Anona muricata)
petai cina (Leucaena glauca)

Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis sanggup dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.
Misalnya:

Kita mengenal banyak sekali macam gula, menyerupai gula jawa, gula pasir, gula tebu, gula aren, dan gula anggur.
Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempunyai fungsi yang berbeda.

Contoh berikut bukan nama jenis.

Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik Yogyakarta, dan batik Madura.
Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan film Jepang.
Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatra Selatan, tarian Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.

10. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau do-kumen, kecuali kata tugas, menyerupai di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:

Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 perihal Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Presiden dan/atau Wapres serta Pejabat Lainnya
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

11. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, menyerupai di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Tulisan itu dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
Dia biro surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyajikan makalah “Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata”.

12. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.
Misalnya:

S.H. sarjana hukum
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
S.S. sarjana sastra
M.A. master of arts
M.Hum. magister humaniora
M.Si. magister sains
K.H. kiai haji
Hj. hajah
Mgr. monseigneur
Pdt. pendeta
Dg. daeng
Dt. datuk
R.A. raden ayu
St. sutan
Tb. tubagus
Dr. doktor
Prof. profesor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara

13. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, menyerupai bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang digunakan dalam penyapaan atau pengacuan.

Misalnya:

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Hasan.
Dendi bertanya, “Itu apa, Bu?”
“Silakan duduk, Dik!” kata orang itu.
Surat Saudara telah kami terima dengan baik.
“Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
“Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak.”

Catatan:
a. Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua abang dan adik saya sudah berkeluarga.

b. Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?

G. Huruf Miring
1. Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.
Misalnya:

Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat kebangsaan.
Berita itu muncul dalam surat kabar Cakrawala.
Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

2. Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, potongan kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:

Huruf terakhir kata periode yaitu d.
Dia tidak diantar, tetapi mengantar.
Dalam potongan ini tidak dibahas pemakaian tanda baca.
Buatlah kalimat dengan memakai ungkapan lepas tangan.

3. Huruf miring digunakan untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa tempat atau bahasa asing.
Misalnya:

Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan asing yang berkunjung ke Aceh.
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Weltanschauung bermakna ‘pandangan dunia’.
Ungkapan bhinneka tunggal ika dijadikan semboyan negara Indonesia.

Catatan:
a. Nama diri, menyerupai nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing atau bahasa tempat tidak ditulis dengan huruf miring.
b. Dalam naskah goresan pena tangan atau mesin tik (bukan komputer), potongan yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
c.  Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa tempat yang dikutip secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.

H. Huruf Tebal
1. Huruf tebal digunakan untuk menegaskan potongan goresan pena yang sudah ditulis miring.
Misalnya:
Huruf dh, menyerupai pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‗dan‘.
2. Huruf tebal sanggup digunakan untuk menegaskan bagian- potongan karangan, menyerupai judul buku, bab, atau subbab.
Misalnya:

1.1 Latar Belakang dan Masalah
Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh satu bahasa standar dan ratusan bahasa tempat ditambah beberapa bahasa asing, terutama bahasa Inggris membutuhkan penanganan yang tepat dalam perencanaan bahasa. Agar lebih jelas, latar belakang dan problem akan diuraikan secara terpisah menyerupai tampak pada paparan berikut.

1.1.1 Latar Belakang
Masyarakat Indonesia yang heterogen menimbulkan munculnya sikap yang bermacam-macam terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu (1) sangat gembira terhadap bahasa asing, (2) sangat gembira terhadap bahasa daerah, dan (3) sangat gembira terhadap bahasa Indonesia.

1.1.2 Masalah
Penelitian ini hanya membatasi problem pada sikap bahasa masyarakat Kalimantan terhadap ketiga bahasa yang ada di Indonesia. Sikap masyarakat tersebut akan digunakan sebagai formulasi kebijakan perencanaan bahasa yang diambil.

1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sikap bahasa masyarakat Kalimantan, khususnya yang tinggal di kota besar terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.

II. PENULISAN KATA
A. Kata Dasar
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:

Kantor pajak penuh sesak.
Saya pergi ke sekolah.
Buku itu sangat tebal.

B. Kata Berimbuhan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta adonan awalan dan akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:

berjalan
berkelanjutan
mempermudah
gemetar
lukisan
kemauan
perbaikan

Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, menyerupai -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:

sukuisme
seniman
kamerawan
gerejawi

2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Misalnya:

adibusana
aerodinamika
antarkota
antibiotik
awahama
bikarbonat
biokimia
dekameter
demoralisasi
dwiwarna
ekabahasa
ekstrakurikuler
infrastruktur
inkonvensional
kontraindikasi
kosponsor
mancanegara
multilateral
narapidana
nonkolaborasi
paripurna
pascasarjana
pramusaji
prasejarah
proaktif
purnawirawan
saptakrida
semiprofesional
subbagian
swadaya
telewicara
transmigrasi
tunakarya
tritunggal
tansuara
ultramodern

Catatan:
(1) Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf
kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-).
Misalnya:

non-Indonesia
pan-Afrikanisme
pro-Barat
non-ASEAN
anti-PKI

(2) Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.
Misalnya:

Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

(3) Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.
Misalnya:

Tuhan Yang Mahakuasa memilih arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

C. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis dengan memakai tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:

anak-anak
biri-biri
lauk-pauk
berjalan-jalan
buku-buku
cumi-cumi
mondar-mandir
mencari-cari
hati-hati
kupu-kupu
ramah-tamah
terus-menerus
kuda-kuda
kura-kura
sayur-mayur
porak-poranda
mata-mata
ubun-ubun
serba-serbi
tunggang-langgang

Catatan:
Bentuk ulang adonan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama.
Misalnya:

surat kabar:  surat-surat kabar
kapal barang:  kapal-kapal barang
rak buku: rak-rak buku
kereta api cepat:  kereta-kereta api cepat

D. Gabungan Kata
1. Unsur adonan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, ditulis terpisah.
Misalnya:

duta besar model linear
kambing hitam persegi panjang
orang renta rumah sakit jiwa
simpang empat meja tulis
mata aktivitas cendera mata

2. Gabungan kata yang sanggup menjadikan salah pengertian ditulis dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:

anak-istri pejabat anak istri-pejabat
ibu-bapak kami ibu bapak-kami
buku-sejarah gres buku sejarah-baru

3. Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jikalau mendapat awalan atau akhiran.
Misalnya:

bertepuk tangan
menganak sungai
garis bawahi
sebar luaskan

4. Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.
Misalnya:

dilipatgandakan
menggarisbawahi
menyebarluaskan
penghancurleburan
pertanggungjawaban

5. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.
Misalnya:

acapkali
adakalanya
apalagi
bagaimana
barangkali
beasiswa
belasungkawa
bilamana
bumiputra
darmabakti
dukacita
hulubalang
kacamata
kasatmata
kilometer
manasuka
matahari
olahraga padahal
peribahasa
sikap puspawarna
radioaktif
saptamarga
saputangan
saripati
sediakala
segitiga
sukacita
sukarela
syahbandar
wiraswata

E. Pemenggalan Kata
1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

a. Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya:

bu-ah
ma-in
ni-at
sa-at

b. Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal.
Misalnya:

pan-dai
au-la
sau-da-ra
sur-vei
am-boi

c. Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk adonan huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf kon-sonan itu.
Misalnya:

ba-pak
la-wan
de-ngan
ke-nyang
mu-ta-khir
mu-sya-wa-rah

d. Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Misalnya:

Ap-ril
cap-lok
makh-luk
man-di
sang-gup
som-bong
swas-ta

e. Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya:

ul-tra
in-fra
ben-trok
in-stru-men

Catatan:
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.
Misalnya:

bang-krut
bang-sa
ba-nyak
ikh-las
kong-res
makh-luk
masy-hur
sang-gup

2. Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar dan unsur pembentuknya.
Misalnya:

ber-jalan
mem-pertanggungjawabkan
mem-bantu
memper-tanggungjawabkan
di-ambil
mempertanggung-jawabkan
ter-bawa
mempertanggungjawab-kan
per-buat
me-rasakan
makan-an
merasa-kan
letak-kan
per-buatan
pergi-lah
perbuat-an
apa-kah
ke-kuatan
kekuat-an

Catatan:
(1) Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan dilakukan menyerupai pada kata dasar.
Misalnya:

me-nu-tup
me-ma-kai
me-nya-pu
me-nge-cat
pe-mi-kir
pe-no-long
pe-nga-rang
pe-nge-tik
pe-nye-but

(2) Pemenggalan kata bersisipan dilakukan menyerupai pada kata dasar.
Misalnya:

ge-lem-bung
ge-mu-ruh
ge-ri-gi
si-nam-bung
te-lun-juk

(3) Pemenggalan kata yang menimbulkan munculnya satu huruf di awal atau simpulan baris tidak dilakukan.
Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai problem itu telah disampaikan ….
Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau mengambil makanan itu.

3. Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu sanggup bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap unsur adonan itu dipenggal menyerupai pada kata dasar.

Misalnya:

biografi
bio-grafi
bi-o-gra-fi
biodata
bio-data
bi-o-da-ta
fotografi
foto-grafi
fo-to-gra-fi
fotokopi
foto-kopi
fo-to-ko-pi
introspeksi
intro-speksi
in-tro-spek-si
introjeksi
intro-jeksi
in-tro-jek-si
kilogram
kilo-gram
ki-lo-gram
kilometer
kilo-meter
ki-lo-me-ter
pascapanen
pasca-panen
pas-ca-pa-nen
pascasarjana
pasca-sarjana
pas-ca-sar-ja-na

4. Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada simpulan baris dipenggal di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:

Lagu Indonesia Raya  digubah oleh Wage Rudolf Supratman.
Buku Layar Terkembang dikarang oleh Sutan Takdir Alisjahbana.

5. Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih tidak dipenggal.
Misalnya:

Ia bekerja di DLLAJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga Warsita.

Catatan:
Penulisan berikut dihindari.

Ia bekerja di DLL-
AJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.
Ng. Rangga Warsita.
F. Kata Depan
Kata depan, menyerupai di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:
Di mana dia sekarang?
Kain itu disimpan di dalam lemari.
Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Mari kita berangkat ke kantor.
Saya pergi ke sana mencarinya.
Ia berasal dari Pulau Penyengat.
Cincin itu terbuat dari emas.

G. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:

Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?

2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:

Apa pun permasalahan yang muncul, dia sanggup mengatasinya dengan bijaksana.
Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.

Catatan:
Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai.
Misalnya:

Meskipun sibuk, dia sanggup menuntaskan kiprah tepat pada waktunya.
Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai ahad depan.

3. Partikel per yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:

Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
Karyawan itu mendapat kenaikan honor per 1 Januari.

H. Singkatan dan Akronim
1. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya:

A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
H. Hamid Haji Hamid
Suman Hs. Suman Hasibuan
W.R. Supratman Wage Rudolf Supratman
M.B.A. master of business administration
M.Hum. magister humaniora
M.Si. magister sains
S.E. sarjana ekonomi
S.Sos. sarjana sosial
S.Kom. sarjana komunikasi
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
Sdr. saudara
Kol. Darmawati Kolonel Darmawati

2. a. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama forum pemerintah dan ketatanegaraan, forum pendidikan, tubuh atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:

NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia
UI Universitas Indonesia
PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa
WHO World Health Organization
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
kitab undang-undang hukum pidana Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
b. Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
PT perseroan terbatas
MAN madrasah aliah negeri
SD sekolah dasar
KTP kartu tanda penduduk
SIM surat izin mengemudi
NIP nomor induk pegawai

3. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:

hlm. halaman
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
sda. sama dengan di atas
ybs. yang bersangkutan
yth. yang terhormat
ttd. tertanda
dkk. dan kawan-kawan

4. Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim digunakan dalam surat-menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik.
Misalnya:

a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
s.d. hingga dengan

5. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:

Cu kuprum
cm sentimeter
kVA kilovolt-ampere
l liter
kg kilogram
Rp rupiah

6. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:

BIG Badan Informasi Geospasial
BIN Badan Intelijen Negara
LIPI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

7. Akronim nama diri yang berupa adonan suku kata atau adonan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:

Bulog Badan Urusan Logistik
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kowani Kongres Wanita Indonesia
Kalteng Kalimantan Tengah
Mabbim Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia
Suramadu Surabaya Madura

8. Akronim bukan nama diri yang berupa adonan huruf awal dan suku kata atau adonan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:

iptek ilmu pengetahuan dan teknologi
pemilu pemilihan umum
puskesmas pusat kesehatan masyarakat
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
tilang bukti pelanggaran

I. Angka dan Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim digunakan sebagai lambang bilangan atau nomor.
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000),
_
V (5.000),
_
M (1.000.000)

1. Bilangan dalam teks yang sanggup dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan
huruf, kecuali jikalau digunakan secara berurutan menyerupai dalam perincian.
Misalnya:

Mereka menonton drama itu hingga tiga kali.
Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang abstain.
Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus,
dan 250 sedan.

2. a. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Misalnya:

Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

Catatan:
Penulisan berikut dihindari.

50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

b. Apabila bilangan pada awal kalimat tidak sanggup dinyatakan dengan satu atau dua
kata, susunan kalimatnya diubah.
Misalnya:

Panitia mengundang 250 orang peserta.
Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.

Catatan:
Penulisan berikut dihindari.

250 orang peserta diundang panitia.
25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.

3. Angka yang memperlihatkan bilangan besar sanggup ditulis sebagian dengan huruf supaya
lebih gampang dibaca.
Misalnya:

Dia mendapat pertolongan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
Perusahaan itu gres saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.

4. Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu serta
(b) nilai uang.
Misalnya:

0,5 sentimeter
5 kilogram
4 hektare
10 liter
2 tahun 6 bulan 5 hari
1 jam 20 menit
Rp5.000,00
US$3,50
£5,10
¥100

5. Angka digunakan untuk menomori alamat, menyerupai jalan, rumah, apartemen, atau kamar.
Misalnya:

Jalan Tanah Abang I No. 15 atau
Jalan Tanah Abang I/15
Jalan Wijaya No. 14
Hotel Mahameru, Kamar 169
Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201

6. Angka digunakan untuk menomori potongan karangan atau ayat kitab suci.
Misalnya:

Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9
Markus 16: 15—16

7. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a. Bilangan Utuh
Misalnya:

dua belas (12)
tiga puluh (30)
lima ribu (5.000)

b. Bilangan Pecahan
Misalnya:

setengah atau seperdua (1/2)
seperenam belas (1/16)
tiga perempat (3/4)
dua persepuluh (2/10)
tiga dua-pertiga (3 2/3)
satu persen (1%)
satu permil (1o/oo)

8. Penulisan bilangan tingkat sanggup dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:

periode XX
periode ke-20
periode kedua puluh
Perang Dunia II
Perang Dunia Ke-2
Perang Dunia Kedua

9. Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:

lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
uang 5.000-an (uang lima ribuan)

10. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi.
Misalnya:

Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling usang 1 (satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.

11. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan menyerupai berikut.
Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).
Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.

12. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.
Misalnya:

Kelapadua
Kotonanampek
Rajaampat
Simpanglima
Tigaraksa

J. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:

Rumah itu telah kujual.
Majalah ini boleh kaubaca.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
Rumahnya sedang diperbaiki.

K. Kata Sandang si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:

Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
Toko itu memperlihatkan hadiah kepada si pembeli.
Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
Harimau itu murka sekali kepada sang Kancil.
Dalam kisah itu si Buta berhasil menolong kekasihnya.

Catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jikalau sang merupakan unsur nama Tuhan.
Misalnya:

Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa.

III. PEMAKAIAN TANDA BACA
A. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik digunakan pada simpulan kalimat pernyataan.
Misalnya:

Mereka duduk di sana.
Dia akan tiba pada pertemuan itu.

2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
B. Bahasa Daerah
1. Kedudukan
2. Fungsi
C. Bahasa Asing
1. Kedudukan
2. Fungsi
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
2. Patokan Khusus


Catatan:
(1) Tanda titik tidak digunakan pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung dalam suatu perincian.
Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
a) lambang pujian nasional,
b) identitas nasional, dan
c) alat pemersatu bangsa;
2) bahasa negara ….
(2) Tanda titik tidak digunakan pada simpulan penomoran digital yang lebih dari satu angka (seperti pada Misalnya 2b).
(3) Tanda titik tidak digunakan di belakang angka atau angka terakhir dalam penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan, grafik, atau gambar.
Misalnya:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
Bagan 2 Struktur Organisasi
Bagan 2.1 Bagian Umum
Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia
Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia
Gambar 1 Gedung Cakrawala
Gambar 1.1 Ruang Rapat

3. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang memperlihatkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya:

pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik
atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
00.00.30 jam (30 detik)

4. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul goresan pena (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
Misalnya:

Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.

5. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang memperlihatkan jumlah.
Misalnya:

Indonesia mempunyai lebih dari 13.000 pulau.
Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
Anggaran forum itu mencapai Rp225.000.000.000,00.

Catatan:
(1) Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak memperlihatkan jumlah.
Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa halaman 1305.
Nomor rekening panitia seminar yaitu 0015645678.
(2) Tanda titik tidak digunakan pada simpulan judul yang merupakan kepala karangan, ilustrasi, atau tabel.
Misalnya:
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I Undang-Undang Dasar 1945)
Gambar 3 Alat Ucap Manusia
Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasarkan Pendidikan
(3) Tanda titik tidak digunakan di belakang (a) alamat akseptor dan pengirim surat serta (b) tanggal surat.
Misalnya:
Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330
Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
Indrawati, M.Hum.
Jalan Cempaka II No. 9
Jakarta Timur
21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)

B. Tanda Koma (,)
1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Misalnya:
Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Satu, dua, … tiga!

2. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung, menyerupai tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat beragam (setara).
Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Dia membaca kisah pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.

3. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar mempunyai wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.

Catatan:
Tanda koma tidak digunakan jikalau induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya akan tiba kalau diundang.
Dia mempunyai banyak sahabat alasannya yaitu baik hati.
Kita harus banyak membaca buku supaya mempunyai wawasan yang luas.

4. Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, menyerupai oleh alasannya yaitu itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.
Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh alasannya yaitu itu, dia memperoleh beasiswa mencar ilmu di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca semenjak kecil. Jadi, masuk akal kalau dia menjadi bintang pelajar
Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi sarjana.

5. Tanda koma digunakan sebelum dan/atau setelah kata seru, menyerupai o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang digunakan sebagai sapaan, menyerupai Bu, Dik, atau Nak.
Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!
Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.

6. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari potongan lain dalam kalimat.
Misalnya:
Kata nenek saya, Kita harus menyebarkan dalam hidup ini.
Kita harus menyebarkan dalam hidup ini,‖ kata nenek saya, alasannya yaitu insan yaitu makhluk sosial.‖
Catatan:
Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari potongan lain yang mengikutinya.

Misalnya:
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Pak Lurah.
“Masuk ke dalam kelas sekarang!” perintahnya.
Wow, indahnya pantai ini!‖ seru wisatawan itu.

7. Tanda koma digunakan di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta
Surabaya, 10 Mei 1960
Tokyo, Jepang

8. Tanda koma digunakan untuk memisahkan potongan nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.
Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.

9. Tanda koma digunakan di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
Misalnya:
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

10. Tanda koma digunakan di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, M.Hum.
Siti Aminah, S.H., M.H.
Catatan:
Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas Agung).

11. Tanda koma digunakan sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp500,50
Rp750,00

12. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi.
Misalnya:
Di tempat kami, Misalnya, masih banyak materi tambang yang belum diolah.
Semua siswa, baik pria maupun perempuan, harus mengikuti latihan paduan suara.
Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib menindaklanjuti laporan dalam waktu paling usang tujuh hari.

Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma!
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu tanpa melalui tes.

13. Tanda koma sanggup digunakan di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.
Misalnya:
Dalam pengembangan bahasa, kita sanggup memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
Dalam pengembangan bahasa kita sanggup memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.

C. Tanda Titik Koma (;)
1. Tanda titik koma sanggup digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Hari sudah malam; bawah umur masih membaca buku.
Ayah menuntaskan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca kisah pendek.

2. Tanda titik koma digunakan pada simpulan perincian yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di forum ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam kalimat yang sudah memakai tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan aktivitas kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

D. Tanda Titik Dua (:)
1. Tanda titik dua digunakan pada simpulan suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
Misalnya:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.

2. Tanda titik dua tidak digunakan jikalau perincian atau klarifikasi itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi
a. persiapan,
b. pengumpulan data,
c. pengolahan data, dan
d. pelaporan.

3. Tanda titik dua digunakan setelah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
a. Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara : Aulia Arimbi
c. Narasumber : Prof. Dr. Rahmat Effendi
Pemandu : Abdul Gani, M.Hum.
Pencatat : Sri Astuti Amelia, S.Pd.

4. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama setelah kata yang memperlihatkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : “Bawa koper ini, Nak!”
Amir : “Baik, Bu.”
Ibu : “Jangan lupa, letakkan baik-baik!”

5. Tanda titik dua digunakan di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Albaqarah: 2—5
Matius 2: 1—3
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara
Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.

E. Tanda Hubung (-)
1. Tanda hubung digunakan untuk menandai potongan kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra gres ….
Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum- put laut.
Kini ada cara yang gres untuk meng- ukur panas.
Parut jenis ini memudahkan kita me- ngukur kelapa.

2. Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur kata ulang.
Misalnya:
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
mengorek-ngorek

3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
11-11-2013
p-a-n-i-t-i-a

4. Tanda hubung sanggup digunakan untuk memperjelas hubungan potongan kata atau ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi
meng-ukur
dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)
23/25 (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)
mesin hitung-tangan

Bandingkan dengan
be-revolusi
me-ngukur
dua-puluh lima-ribuan (20 x 5.000)
20 3/25 (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima)
mesin-hitung tangan

5. Tanda hubung digunakan untuk merangkai
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
b. ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c. angka dengan –an (tahun 1950-an);
d. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H, sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan);
e. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rahmat-Mu);
f. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
g. kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang berupa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).

Catatan:
Tanda hubung tidak digunakan di antara huruf dan angka jikalau angka tersebut melambangkan jumlah huruf.
Misalnya:
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia)
LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia)
P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)

6. Tanda hubung digunakan untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa tempat atau bahasa asing.
Misalnya:
di-sowan-i (bahasa Jawa, ‗didatangi‘)
ber-pariban (bahasa Batak, ‗bersaudara sepupu‘)
di-back up
me-recall
pen-tackle-an

7. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek bahasan.
Misalnya:
Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.
Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.

F. Tanda Pisah (—)
1. Tanda pisah sanggup digunakan untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang mem-beri klarifikasi di luar bangkit kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai-diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jikalau kita mau berusaha keras.

2. Tanda pisah sanggup digunakan juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.
Misalnya:
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita perihal alam semesta.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus digelorakan.

3. Tanda pisah digunakan di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Misalnya:
Tahun 2010—2013
Tanggal 5—10 April 2013
Jakarta—Bandung

G. Tanda Tanya (?)
1. Tanda tanya digunakan pada simpulan kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
Siapa pencipta lagu ―Indonesia Raya‖?

2. Tanda tanya digunakan di dalam tanda kurung untuk menyatakan potongan kalimat yang disangsikan atau yang kurang sanggup dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.

H. Tanda Seru (!)
Tanda seru digunakan untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa usul atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.
Misalnya:
Alangkah indahnya taman maritim di Bunaken!
Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
Masa! Dia bersikap menyerupai itu?
Merdeka!

I. Tanda Elipsis (…)
1. Tanda elipsis digunakan untuk memperlihatkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan ada potongan yang dihilangkan.
Misalnya:
Penyebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah ….
…, lain lubuk lain ikannya.
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada simpulan kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).
2. Tanda elipsis digunakan untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Misalnya:
―Menurut saya … menyerupai … bagaimana, Bu?‖
―Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.‖
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada simpulan kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat buah).

J. Tanda Petik (“…”)
1. Tanda petik digunakan untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau materi tertulis lain.
Misalnya:
“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
“Kerjakan kiprah ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok akan dibahas dalam rapat.”
Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”

2. Tanda petik digunakan untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau potongan buku yang digunakan dalam kalimat.
Misalnya:
Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
Film ―Ainun dan Habibie‖ merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah novel.
Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarik perhatian peserta seminar.
Perhatikan “Pemakaian Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

3. Tanda petik digunakan untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
“Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
Dilarang memperlihatkan “amplop” kepada petugas!

K. Tanda Petik Tunggal (‘…’)
1. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
―Kita gembira alasannya yaitu lagu ‗Indonesia Raya‘ berkumandang di arena olimpiade itu,‖ kata Ketua KONI.

2. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna, terjemahan, atau klarifikasi kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat ‘yang digugat’
retina ‘dinding mata sebelah dalam’
noken ‘tas khas Papua’
tadulako ‘panglima’
marsiadap ari ‘saling bantu’
tuah sakato ‘sepakat demi manfaat bersama’
policy ‘kebijakan’
wisdom ‘kebijaksanaan’
money politics ‘politik uang’

L. Tanda Kurung ((…))
1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
Warga gres itu belum mempunyai KTP (kartu tanda penduduk).
Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.

2. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau klarifikasi yang bukan potongan utama kalimat.
Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
Keterangan itu (lihat Tabel 10) memperlihatkan arus perkembangan gres pasar dalam negeri.

3. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di dalam teks sanggup dimunculkan atau dihilangkan.
Misalnya:
Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.

4. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai penanda pemerincian.
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut (a) materi baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.
Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1) sertifikat kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.

M. Tanda Kurung Siku ([…])
1. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah orisinil yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa Indonesia.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara khidmat.

2. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.
Misalnya:
Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35─38]) perlu dibentangkan di sini.

N. Tanda Garis Miring (/)
1. Tanda garis miring digunakan dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
Nomor: 7/PK/II/2013
Jalan Kramat III/10
tahun aliran 2012/2013

2. Tanda garis miring digunakan sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.
Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa dan mahasiswi’
dikirimkan lewat darat/laut ‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’
buku dan/atau majalah ‘buku dan majalah atau buku atau majalah’
harganya Rp1.500,00/lembar ‘harganya Rp1.500,00 setiap lembar’

3. Tanda garis miring digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah orisinil yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.
Dia sedang menuntaskan /h/utangnya di bank.

O. Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkat digunakan untuk memperlihatkan penghilangan potongan kata atau potongan angka tahun dalam konteks tertentu.
Misalnya:
Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan = bukan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
5-2-‗13 (‘13 = 2013)

IV. PENULISAN UNSUR SERAPAN
Dalam perkembangannya bahasa Indonesia menyerap unsur dari banyak sekali bahasa, baik dari bahasa daerah, menyerupai bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, maupun dari bahasa asing, menyerupai bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia sanggup dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, menyerupai force majeur, de facto, de jure, dan l’exploitation de l’homme par l’homme. Unsur-unsur itu digunakan dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya diubahsuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini, peresapan diusahakan supaya ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih sanggup dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu yaitu sebagai berikut.
a (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi a (bukan o)
mażhab ()مذ هب mazhab
qadr (قدر ) kadar
ṣaḥābat (صحا بة ) sahabat
haqīqat (حقيقة ) hakikat
‘umrah (عمرة ) umrah
gā’ib (غائب ) gaib
iqāmah (إقامة ) ikamah
khātib (خاطب ) khatib
riḍā’ (رضاء ) rida
ẓālim (ظالم ) zalim
‘ain (ع Arab) pada awal suku kata menjadi a, i, u
‘ajā’ib (عجائب ) ajaib
sa‘ādah (سعادة ) saadah
‘ilm (علم ) ilmu
qā‘idah (قاعدة ) kaidah
‘uzr (عذر ) uzur
ma‘ūnah (معونة ) maunah
‘ain (ع Arab) di simpulan suku kata menjadi k
’i‘ tiqād (إعتقاد ) iktikad
mu‘jizat (معجزة ) mukjizat
ni‘mat (نعمة ) nikmat
rukū‘ (ركوع ) rukuk
simā‘ (سماع ) simak
ta‘rīf (تعريف ) takrif
aa (Belanda) menjadi a
paal pal
baal bal
octaaf oktaf
ae tetap ae jikalau tidak bervariasi dengan e
aerobe aerob
aerodinamics aerodinamika
ae, jikalau bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin hemoglobin
haematite hematit
ai tetap ai
trailer trailer
caisson kaison

au tetap au
audiogram audiogram
autotroph autotrof
tautomer tautomer
hydraulic hidraulik
caustic kaustik
c di depan a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel kalomel
construction konstruksi
cubic kubik
coup kup
classification klasifikasi
crystal kristal
c di depan e, i, oe, dan y menjadi s
central sentral
cent sen
circulation sirkulasi
coelom selom
cybernetics sibernetika
cylinder silinder
cc di depan o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation akomodasi
acculturation akulturasi
acclimatization aklimatisasi
accumulation akumulasi
acclamation aklamasi
cc di depan e dan i menjadi ks
accent aksen
accessory aksesori
vaccine vaksin
cch dan ch di depan a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin sakarin
charisma karisma
cholera kolera
chromosome kromosom
technique teknik
ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon eselon
machine mesin
ch yang lafalnya c menjadi c
charter carter
chip cip
ck menjadi k
check cek
ticket tiket
ç (Sanskerta) menjadi s
çabda sabda
çastra sastra
ḍad (ض Arab) menjadi d
’afḍal ( أفضل ) afdal
ḍa’īf (ضعيف ) daif
farḍ (فرض ) fardu
hāḍir (حاضر ) hadir
e tetap e
effect efek
description deskripsi
synthesis sintesis

ea tetap ea
idealist idealis
habeas habeas
ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer stratosfer
systeem sistem
ei tetap ei
eicosane eikosan
eidetic eidetik
einsteinium einsteinium
eo tetap eo
stereo stereo
geometry geometri
zeolite zeolit
eu tetap eu
neutron neutron
eugenol eugenol
europium europium
fa (ف Arab) menjadi f
ʼafḍal (أفضل ) afdal
‘ārif (عارف ) arif
faqīr (فقير ) fakir
faṣīh (فصيح ) fasih
mafhūm (مفهوم ) mafhum
f tetap f
fanatic fanatik
factor faktor
fossil fosil
gh menjadi g
ghanta genta
sorghum sorgum
gain (غ Arab) menjadi g
gā’ib (غائب ) gaib
magfirah (مغفرة ) magfirah
magrib (مغرب ) magrib
gue menjadi ge
igue ige
gigue gige
ḥa (ح Arab) menjadi h
ḥākim (حاكم ) hakim
iṣlāḥ (إصلاح ) islah
siḥr (سحر ) sihir
hamzah (ء Arab) yang diikuti oleh vokal menjadi a, i, u
’amr (أمر ) amar
mas’alah (مسألة ) masalah
’iṣlāḥ (إصلاح ) islah
qā’idah (قاعدة ) kaidah
’ufuq ( أفق ) ufuk
hamzah (ء Arab) di simpulan suku kata, kecuali di simpulan kata, menjadi k
ta’wīl (تأويل ) takwil
ma’mūm (مأموم ) makmum
mu’mīn (مؤمن ) mukmin

hamzah (ء Arab) di simpulan kata dihilangkan
imlā’ (إملاء ) imla
istinjā’ (إستنجاء ) istinja/tinja
munsyi’ (منشىء ) munsyi
wuḍū’ (وضوء ) wudu
i (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi i
ʼi‘tiqād (إعتقاد ) iktikad
muslim (مسلم ) muslim
naṣīḥah (نصيحة ) nasihat
ṣaḥīḥ (صحيح ) sahih
i pada awal suku kata di depan vokal tetap i
iambus iambus
ion ion
iota iota
ie (Belanda) menjadi i jikalau lafalnya i
politiek politik
riem rim
ie tetap ie jikalau lafalnya bukan i
variety varietas
patient pasien
hierarchy hierarki
jim (ج Arab) menjadi j
jāriyah (جارية ) jariah
janāzah (جنازة ) jenazah
ʼijāzah (إجازة ) ijazah
kha (خ Arab) menjadi kh
khuṣūṣ (خصوص ) khusus
makhlūq (مخلوق ) makhluk
tārīkh (تاريخ ) tarikh
ng tetap ng
contingent kontingen
congres kongres
linguistics linguistik
oe (oi Yunani) menjadi e
foetus fetus
oestrogen estrogen
oenology enologi
oo (Belanda) menjadi o
komfoor kompor
provoost provos
oo (Inggris) menjadi u
cartoon kartun
proof pruf
pool pul
oo (vokal ganda) tetap oo
zoology zoologi
coordination koordinasi
ou menjadi u jikalau lafalnya u
gouverneur gubernur
coupon kupon
contour kontur
ph menjadi f
phase fase
physiology fisiologi
spectograph spektograf

ps tetap ps
pseudo pseudo
psychiatry psikiatri
psychic psikis
psychosomatic psikosomatik
pt tetap pt
pterosaur pterosaur
pteridology pteridologi
ptyalin ptialin
q menjadi k
aquarium akuarium
frequency frekuensi
equator ekuator
qaf (ق Arab) menjadi k
‘aqīqah (عقيقة ) akikah
maqām (مقام ) makam
muṭlaq (مطلق ) mutlak
rh menjadi r
rhapsody rapsodi
rhombus rombus
rhythm ritme
rhetoric retorika
sin (س Arab) menjadi s
asās (أساس ) asas
salām (سلام ) salam
silsilah (سلسة ) silsilah
śa (ث Arab) menjadi s
aśiri ( أثيرى ) asiri
ḥadiś (حديث ) hadis
śulāśā (ا لثّل ثاء ) selasa
wāriś (وارث ) waris
ṣad (ص Arab) menjadi s
‘aṣr ( عصر ) asar
muṣībah (مصيبة ) musibah
khuṣūṣ (خصوص ) khusus
ṣaḥḥ ( صح ) sah
syin (ش Arab) menjadi sy
‘āsyiq (عاشق ) asyik
‘arsy (عرش ) arasy
syarṭ (شرط ) syarat
sc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi sk
scandium skandium
scotopia skotopia
scutella skutela
sclerosis sklerosis
sc di depan e, i, dan y menjadi s
scenography senografi
scintillation sintilasi
scyphistoma sifistoma
sch di depan vokal menjadi sk
schema skema
schizophrenia skizofrenia
scholastic skolastik
t di depan i menjadi s jikalau lafalnya s
actie aksi
ratio rasio
patient pasien

ṭa (ط Arab) menjadi t
khaṭṭ ( خطّ ) khat
muṭlaq (مطلق ) mutlak
ṭabīb (طبيب ) tabib
th menjadi t
theocracy teokrasi
orthography ortografi
thrombosis trombosis
methode (Belanda) metode
u tetap u
unit unit
nucleolus nukleolus
structure struktur
institute institut
u (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi u
rukū’ (ركوع ) rukuk
syubḥāt (شبها ت ) syubhat
sujūd (سجود ) sujud
’ufuq ( أفق ) ufuk
ua tetap ua
aquarium akuarium
dualisme dualisme
squadron skuadron
ue tetap ue
consequent konsekuen
duet duet
suede sued
ui tetap ui
conduite konduite
equinox ekuinoks
equivalent ekuivalen
uo tetap uo
fluorescein fluoresein
quorum kuorum
quota kuota
uu menjadi u
lectuur lektur
prematuur prematur
vacuum vakum
v tetap v
evacuation evakuasi
television televisi
vitamin vitamin
wau (و Arab) tetap w
jadwal (جدول ) jadwal
taqwā (تقوى ) takwa
wujūd (وجود ) wujud
wau (و Arab, baik satu maupun dua konsonan) yang didahului u dihilangkan
nahwu (نحو ) nahu
nubuwwah ( نبوّّ ة ) nubuat
quwwah ( قوّّ ة ) kuat
aw (diftong Arab) menjadi au, termasuk yang diikuti konsonan
awrāt ( عورة ) aurat
hawl (هول ) haul
mawlid (مولد ) maulid
walaw ( ولو ) walau

x pada awal kata tetap x
xanthate xantat
xenon xenon
xylophone xilofon
x pada posisi lain menjadi ks
executive eksekutif
express ekspres
latex lateks
taxi taksi
xc di depan e dan i menjadi ks
exception eksepsi
excess ekses
excision eksisi
excitation eksitasi
xc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation ekskavasi
excommunication ekskomunikasi
excursive ekskursif
exclusive eksklusif
y tetap y jikalau lafalnya y
yakitori yakitori
yangonin yangonin
yen yen
yuan yuan
y menjadi i jikalau lafalnya ai atau i
dynamo dinamo
propyl propil
psychology psikologi
yttrium itrium
ya (ي Arab) di awal suku kata menjadi y
‘ināyah (عناية ) inayah
yaqīn (يقين ) yakin
ya‘nī (يعني ) yakni
ya (ي Arab) di depan i dihilangkan
khiyānah (خيانة ) khianat
qiyās (قياس ) kias
ziyārah (زيارة ) ziarah
z tetap z
zenith zenit
zirconium zirkonium
zodiac zodiak
zygote zigot
zai (ز Arab) tetap z
ijāzah (إجازة ) ijazah
khazānah (خزانة ) khazanah
ziyārah (زيارة ) ziarah
zaman (زمن ) zaman
żal (ذ Arab) menjadi z
ażān (أذان ) azan
iżn (إذن ) izin
ustāż (أستاذ ) ustaz
żāt (ذات ) zat
ẓa (ظ Arab) menjadi z
ḥāfiẓ (حافظ ) hafiz
ta‘ẓīm (تعظيم ) takzim
ẓālim (ظالم ) zalim

Konsonan ganda diserap menjadi konsonan tunggal, kecuali kalau sanggup membingungkan.
Misalnya:
accu aki
‗allāmah alamah
commission komisi
effect efek
ferrum ferum
gabbro gabro
kaffah kafah
salfeggio salfegio
tafakkur tafakur
tammat tamat
ʼummat umat

Perhatikan peresapan berikut!
ʼAllah Allah
mass massa
massal massal

Catatan:
Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia tidak perlu lagi diubah.
Misalnya:
bengkel
nalar
Rabu
dongkrak
napas
Selasa
faedah
paham
Senin
kabar
perlu
sirsak
khotbah
pikir
soal
koperasi
populer
telepon
lahir
Selain kaidah penulisan unsur serapan di atas, berikut ini disertakan daftar istilah asing yang mengandung akhiran serta penyesuaiannya secara utuh dalam bahasa Indonesia.
-aat (Belanda) menjadi –at
advocaat advokat
-age menjadi -ase
percentage persentase
etalage etalase
-ah (Arab) menjadi –ah atau –at
‗aqīdah (عقيدة ) akidah
ʼijāzah (إجازة ) ijazah
‘umrah (عمرة ) umrah
ʼākhirah (آخرة ) akhirat
ʼāyah (أية ) ayat
ma‘siyyah ( معصيّة ) maksiat
ʼamānah (أمانة ) amanah, amanat
pesan tersirat (حكمة ) hikmah, hikmat
‘ibādah (عبادة ) ibadah, ibadat
sunnah (سنة ) sunah, sunat
sūrah (سورة ) surah, surat
-al (Inggris), -eel dan -aal (Belanda) menjadi –al
structural, structureel struktural
formal, formeel formal
normal, normaal normal
-ant menjadi -an
accountant akuntan
consultant konsultan
informant informan

-archy (Inggris), -archie (Belanda) menjadi arki
anarchy, anarchie anarki
monarchy, monarchie monarki
oligarchy, oligarchie oligarki
-ary (Inggris), -air (Belanda) menjadi -er
complementary,
complementair komplementer
primary, primair primer
secondary, secundair sekunder
-(a)tion (Inggris), -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si
action, actie aksi
publication, publicatie publikasi
-eel (Belanda) menjadi -el
materieel materiel
moreel morel
-ein tetap -ein
casein kasein
protein protein
-i, -iyyah (akhiran Arab) menjadi –i atau -iah
‘ālamī (عالمي ) alami
ʼinsānī (إنساني ) insani
‘āliyyah ( عاليّة ) aliah
‘amaliyyah ( عمليّة ) amaliah
-ic, -ics, dan -ique (Inggris), -iek dan -ica (Belanda) menjadi -ik, ika
dialectics, dialektica dialektika
logic, logica logika
physics, physica fisika
linguistics, linguistiek linguistik
phonetics, phonetiek fonetik
technique, techniek teknik
-ic (Inggris), -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik
electronic, elektronisch elektronik
mechanic, mechanisch mekanik
ballistic, ballistisch balistik
-ical (Inggris), -isch (Belanda) menjadi -is
economical, economisch ekonomis
practical, practisch praktis
logical, logisch logis
-ile (Inggris), -iel (Belanda) menjadi -il
mobile, mobiel mobil
percentile, percentiel persentil
projectile, projectiel proyektil
-ism (Inggris), -isme (Belanda) menjadi -isme
capitalism, capitalisme kapitalisme
communism, communisme komunisme
modernism, modernisme modernisme
-ist menjadi -is
egoist egois
hedonist hedonis
publicist publisis
-ive (Inggris), -ief (Belanda) menjadi -if
communicative,
communicatief komunikatif
demonstrative, demonstratief demonstratif
descriptive, descriptief deskriptif

-logue (Inggris), -loog (Belanda) menjadi -log
analogue, analoog analog
epilogue, epiloog epilog
prologue, proloog prolog
-logy (Inggris), -logie (Belanda) menjadi -logi
technology, technologie teknologi
physiology, physiologie fisiologi
analogy, analogie analogi
-oid (Inggris), oide (Belanda) menjadi -oid
anthropoid, anthropoide antropoid
hominoid, hominoide hominoid
-oir(e) menjadi -oar
trotoir trotoar
repertoire repertoar
-or (Inggris), -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir
director, directeur direktur
inspector, inspecteur inspektur
amateur amatir
formateur formatur
-or tetap -or
dictator diktator
corrector korektor
distributor distributor
-ty (Inggris), -teit (Belanda) menjadi -tas
university, universiteit universitas
quality, kwaliteit kualitas
quantity, kwantiteit kuantitas
-ure (Inggris), -uur (Belanda) menjadi -ur
culture, cultuur kultur
premature, prematuur prematur
structure, struktuur struktur
-wi, -wiyyah (Arab) menjadi -wi, -wiah
dunyāwī (دنياوى ) duniawi
kimiyāwī (کيمياوى ) kimiawi
lugawiyyah (لغوىّة ) lugawiah


Silakan Download Permendikbud dan Pedoman Umum EBI / EYD Terbaru PDF:

Demikian tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang Disempurnakan ( EYD ) Terbaru. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here