Home Perilaku Organisasi Makalah Sikap Kelompok Dalam Organisasi

Makalah Sikap Kelompok Dalam Organisasi

175
0
KATA PENGANTAR 


Om Swastyastu, 
Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), lantaran atas asungkerta waranugrahanya kiprah makalah ini sanggup terselesaikan tepat pada waktunya dalam rangka memenuhi kiprah salah satu mata kuliah Perilaku Organisasi. 
Untuk memenuhi persyaratan tersebut disusunlah makalah ini yang berjudul “Perilaku Kelompok Dalam Organisasi” Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari betul terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran supaya pembuatan makalah selanjutnya sanggup di buat semaksimal mungkin. 
Meskipun dalam penyusunan makalah ini, penulis telah berusaha dengan maksimal, namun penulis masih merasa mempunyai kekurangan dalam makalah ini, maka dari itu penulis meminta kritik dan saran pembaca makalah ini. Kami berharap makalah ini sanggup bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. 
Harapan dari penulis semoga penyusunan makalah ini, sanggup memperlihatkan manfaat bagi setiap orang yang membacanya. Jika pada makalah ini terdapat banyak kekurangan, maka dari itu kritik dan saran yang konstruktif sangat dibutuhkan demi terwujudnya kesempurnaan makalah ini. 
Om Shanti Shanti Shanti Om 
Denpasar, 5 Oktober 2018 
Penyusun 
BAB I 

PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang 
Keputusan (decision) yaitu suatu pilihan (choice), yaitu pilihan dari dua atau lebih kemungkinan. Walaupun keputusan biasa dikatakan sama dengan pilihan, ada perbedaan penting diantara keduanya. Mc Kenzei melihat bahwa keputusan yaitu pilihan kasatmata lantaran pilihan diartikan sebagai pilihan wacana tujuan termasuk pilihan wacana cara untuk mencapai tujuan itu, apakah pada tingkat perorangan atau kolektif. Mc Grew dan Wilson lebih melihat pada kaitannya dengan proses, yaitu bahwa suatu keputusan ialah selesai dari suatu proses yang lebih dinamis, yang diberi label pengambilan keputusan. 
Dipandang sebagai proses lantaran terdiri atas satu seri aktifitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap sebagai tindakan bijaksana. Benar kata orang bijak “Jika cara anda tepat dalam menciptakan keputusan, maka anda akan terbebas dari aneka macam dilema dalam hidup”. Manajemen menbutuhkan Informasi sebagai dasar pengambilan keputusan mereka. Sistem Informasi mempunyai peranan yang penting dalam menyediakan Informasi untuk administrasi setiap tingkatan. Tiap-tiap kegiatan dan keputusan administrasi yang berbeda membutuhkan informasi yang berbeda. 
Oleh lantaran itu, untuk sanggup menyediakan informasi yang relevan dan berkhasiat bagi manajemen, maka pengembangan Sistem Informasi harus memahami terlebih dahulu kegiatan yang dilakukan oleh administrasi dan tipe keputusannya. Pengambilan keputusan yaitu menentukan satu atau lebih diantara sekian banyak alternatif keputusan yang mungkin. Alternaif keputusan mencakup keputusan ada kepastian, keputusan beresiko, keputusan ketidakpastian dan keputusan dalam konflik. Keputusan bisa dibentuk berulang kali secara rutin dan dalam bentuk dilema yang sama sehingga gampang dilakukan keputusan. Keputusan yang dihadapi mugnkin serupa dengan situasi yang pernah dialami, tetapi ada ciri khusus dari permasalahan yang gres timbul. Dalam makalah ini kami akan membahas materi wacana hakekat kekuputan. 
1.2 Rumusan Masalah 

  1. Apa pengertian dari hakikat keputusan ? 
  2. Bagaimna definisi pengambilan keputusan ? 
  3. Bagaimana Proses pengambilan keputusan dan elemen-elemen dasarnya ? 
  4. Bagaimana Tipologi pengambilan keputusan ? 
  5. Apa saja Jenis keputusan terkait dengan masalah yang dihadapi ? 
  6. Apa saja faktor – faktor yang besar lengan berkuasa dalam pengambilan keputusan ? 
  7. Pengambilan keputusan kelompok ? 
  8. Implikasi manajerial dalam pengambilan keputusan ? 
1.3 Tujuan Penulisan 

  1. Untuk mengetahui pengertian dari hakikat keputusan ! 
  2. Untuk mengetahui definisi pengambilan keputusan ! 
  3. Untuk mengetahui Proses pengambilan keputusan dan elemen-elemen dasarnya ! 
  4. Untuk mengetahui Tipologi pengambilan keputusan ! 
  5. Untuk mengetahui Jenis keputusan terkait dengan masalah yang dihadapi ! 
  6. Untuk mengetahui faktor – faktor yang besar lengan berkuasa dalam pengambilan keputusan ! 
  7. Untuk mengetahui Pengambilan keputusan kelompok ! 
  8. Untuk mengetahui Implikasi manajerial dalam pengambilan keputusan ! 
BAB II 

PEBAHASAN 

2.1 Hakikat Keputusan 

Pengambilan keputusan mengandung arti pemilihan altematif terbaik dari sejumlah Alternatif yang tersedia. Teori-teori pengambilan keputusan bersangkut paut dengan masalah bagaimana pilihan-pilihan semacam itu dibuat. 
Pada hakikatnya pengambilan keputusan yaitu suatu pendekatan sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data. Penentuan yang matang dari altenatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang berdasarkan perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Dee Ann Gullies (1996) menjelaskan definisi Pengambilan keputusan sebagai suatu proses kognitif yang tidak tergesa-gesa terdiri dari rangkaian tahapan yang sanggup dianalisa, diperhalus, dan dipadukan untuk menghasilkan ketepatan serta ketelitian yang lebih besar dalam menuntaskan masalah dan memulai tindakan. 
Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Handoko (1997), pembuatan keputusan yaitu kegiatan yang menggambarkan proses melalui serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu. Ralp C. Davis dalam Imam Murtono (2009) menyatakan keputusan sanggup dijelaskan sebagai hasil pemecahan masalah, selain itu juga harus didasari atas logika dan pertimbangan, penetapan alternatif terbaik, serta harus mendekati tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pengambil keputusan haruslah memperhatikan hal-hal seperti; logika, realita, rasional, dan pragmatis. 
Berkaitan dengan teknik pengambilan keputusan, James A.F. Stoner dalam Imam (2009) menjelaskan bahwa secara umum pengertian pengambilan keputusan adalah, teknik pendekatan yang dipakai dalam proses pengambilan keputusan atau proses menentukan tindakan sebagai cara pemecahan masalah. Pengambilan keputusan yaitu sesuatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi, dan mengambil tindakan yang berdasarkan perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Pengertian ini mengandung lima hal esensi yaitu: 

  1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan. 
  2. Pengambilan keputusan tidak sanggup dilakukan secara “sembrono” lantaran cara pendekatan kepada pengambilan keputusan harus didasarkan atas kemampuan organisasi, tenaga kerja yang tersedia, dan situasai lingkungan. 
  3. Bahwa sebelum sesuatu masalah data dipecahkan dengan baik, hakekat daripada masalah ini harus diketahui dengan jelas. 
  4. Pemecahan masalah tidak sanggup dilakukan melalui “ilham” atau dengan mengarang yang berdasarkan data-data yang telah didapatkan. 
  5. Keputusan yang baik yaitu keputusan yang telah dipilih dari aneka macam altrnatif yang ada sesudah dianalisis dengan matang. 


2.2 Definisi Pengambilan Keputusan 
Pengambilan keputusan sanggup dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keluarannya bisa berupa suatu tindakan (aksi) atau suatu opini terhadap pilihan. 
Definisi Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli: 
  • Menurut George R. Terry pengambilan keputusan yaitu pemilihan alternatif sikap (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. 
  • Menurut Sondang P. Siagian pengambilan keputusan yaitu suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang berdasarkan perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. 
  • Menurut James A. F. Stoner pengambilan keputusan yaitu proses yang dipakai untuk menentukan suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah. 
Dari definisi diatas sanggup disimpulkan bahwa pengambilan keputusan itu yaitu suatu cara yang dipakai untuk memperlihatkan suatu pendapat yang sanggup menuntaskan suatu masalah dengan cara / teknik tertentu supaya sanggup lebih diterima oleh semua pihak. 
Pengambilan keputusan yaitu seorang individu yang tidak merasa puas dengan situasi yang ada atau dengan prospek situasi mendatang dan yang mempunyai otoritas untuk berinisiatif dalam mengambil langkah untuk menanggulangi keadaan tersebut . 
Pengambilan keputusan mencakup empat tahap yang saling berafiliasi dan berurutan (Simon, 1980). Empat proses tersebut yaitu : 
1. Intelligence
Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses, dan diuji dalam rangka mengidentifikasi masalah. 
2. Design
Tahap ini yaitu proses menemukan, mengembangkan, dan menganalisis alternatif tindakan yang bisa dilakukan. Tahap ini mencakup proses untuk mengertimasalah, menurunkan solusi, dan menguji kelayakan solusi. 
3. Choice
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan diantara aneka macam alternatif tindakan yang mungkin akan dijalankan. Tahap ini mencakup pencarian, evaluasi, dan rekomendasi solusi yang sesuai untuk model yang telah dibuat. Solusi dari model merupakan nilai spesifik untuk variabel hasil pada alternatif yang dipilih. 
4. Implementation
Tahap implementasi yaitu tahap pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. Pada tahap ini diharapkan untuk menyusun serangkian tindakan yang terencana, sehingga hasil keputusan sanggup dipantau dan diubahsuaikan apabila diharapkan perbaikan. 
2.3 Proses Pengambilan Keputusan dan Elemen – Elemen Dasarnya 
1. Menetapkan tujuan 
Pengambilan keputusan harus mempunyai tujuan yang akan mengarahkan tujuannya, apakah spesifik yang sanggup diukur balasannya ataupun target yang bersifat umum. Tanpa penetapan tujuan, pengambil keputusan tidak bisa menilai alternatif atau menentukan suatu tindakan. Keputusan pada tingkat individu, tujuan ditentukan oleh masing-masing orang sesuai dengan sistem nilai seseorang. Pada tingkat kelompok dan organisasi, tujuan ditentukan oleh sentra kekuasaan melalui diskusi kelompok, konsensus bersama, pembentukan kualisi dan aneka macam macam proses yang mempengaruhi. 
2. Mengidentifikasi Permasalahan 
Proses pengambilan keputusan umumnya dimulai sesudah permasalahan diidentifikasi. Permasalahan merupakan kondisi dimana adanya ketidaksamaan antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Permasalahan dalam organisasi sanggup berupa rendahnya produktivitas, adanya konflik disfungsional, biaya operasional yang terlalu tinggi, pelayanan tidak memuaskan klien, dan lain-lain. Pengambilan keputusan yang efektif memerlukan adanya identifikasi yang tepat atas penyebab permasalahan. 
3. Mengembangkan sejumlah alternative 
Setelah permasalahan diidentifikasi, kemudian dikembangkan serangkaian alternatif untuk menuntaskan permasalahan. Organisasi harus mengkaji aneka macam informasi baik interen maupun eksteren untuk menyebarkan serangkaian alternatif yang diharapkan sanggup memecahkan permasalahan yang terjadi. 
Pengembangan sejumlah alternatif memungkinkan seseorang menolak untuk menciptakan keputusan yang terlalu cepat dan menciptakan lebih mungkin pencapaian keputusan yang efektif.
Proses pengambilan keputusan yang rasional mengharuskan pengambil keputusan untuk mengkaji semua alternatif pemecahan masalah yang potensial. Akan tetapi dalam kenyataannya seringkali terjadi bahwa proses pencarian alternatif pemecahan masalah seringkali terbatas.
4. Penilaian dan pemilihan alternative 
Setelah aneka macam alternatif diidentifikasi, kemudian dilakukan penilaian terhadap masing-masing alternatif yang telah dikembangkan dan dipilih sebuah alternatif yang terbaik. Alternatif-alternatif tindakan dipertimbangkan berkaitan dengan tujuan yang ditentukan, apakah sanggup memenuhi keharusan atau keinginan. Alternatif yang terbaik yaitu dalam hubungannya dengan target atau tujuan yang hendak dicapai. Bidang ilmu statistik dan riset operasi merupakan model yang baik untuk menilai aneka macam alternatif yang telah dikembangkan.
5. Melaksanakan keputusan 
Jika salah satu dari alternatif yang terbaik telah dipilih, maka keputusan tersebut kemudian harus diterapkan. Sekalipun langkah ini sudah jelas, akan tetapi sering kali keputusan yang baik sekalipun mengalami kegagalan lantaran tidak diterapkan dengan benar. Keberhasilan penerapan keputusan yang diambil oleh pimpinan bukan semata-mata tanggung jawab dari pimpinan akan tetapi janji dari bawahan untuk melaksanakannya juga memegang peranan yang penting. 
Dalam mengevaluasi dan menentukan alternatif suatu keputusan seharusnya juga mempertimbangkan kemungkinan penerapan dari keputusan tersebut. Betapapun baiknya suatu keputusan apabila keputusan tersebut sulit diterapkan maka keputusan itu tidak ada artinya. Pengambil keputusan menciptakan keputusan berkaitan dengan tujuan yang ideal dan hanya sedikit mempertimbang kanpenerapan operasionalnya 
6. Evaluasi dan pengendalian 
Setelah keputusan diterapkan, pengambil keputusan tidak sanggup begitu saja menganggap bahwa hasil yang diinginkan akan tercapai. Mekanisme sistem pengendalian dan penilaian perlu dilakukan supaya apa yang diharapkan dari keputusan tersebut sanggup terealisir. Penilaian didasarkan atas target dan tujuan yang telah ditetapkan. 
Tujuan yang bersifat khusus dan gampang diukur sanggup mempercepat pimpinan untuk menilai keberhasilan keputusan tersebut. Jika keputusan tersebut kurang berhasil, di mana permasalahan masih ada, maka pengambil keputusan perlu untuk mengambil keputusan kembali atau melaksanakan tindakan koreksi. Masing-masing tahap dari proses pengambilan keputusan perlu dipertimbangkan dengan hati-hati, termasuk dalam penetapan target tujuan (Wijono, 1999; Gitosudarmo, 1997). 
2.4 Tipologi Pengambilan Keputusan 
A. keputusan berdasarkan tingkat kepentingan 

  1. Keputusan strategis: keputusan untuk menjawab tantangan dan perubahan lingkungan dan biasanya bersifat jangka panjang. 
  2. Keputusan administratif/taktik: keputusan yahg berkaitan dengan pengelolaan sumber daya 
B. keputusan berdasarkan tingkat regulitas 

  1. Keputusan terprogram: keputusan yang berkaitan dengan dilema yang diketahui 
C. keputusan berdasarkan tipe persoalan 

  1. Keputusan internal jangka pendek
  2. Keputusan internal jangka panjang
  3. Keputsan eksternal jangka pendek 
2.5 Jenis Keputusan Terkait Dengan Masalah yang Dihadapi 
1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi 
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu gampang terkena sugesti, efek luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu: 

  1. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga gampang untuk memutuskan. 
  2. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan. 
  3. Pengambilan Keputusan Rasional 
Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibentuk berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional sanggup diukur apabila kepuasan optimal masyarakat sanggup terealisasi dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui ketika itu. 
3. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta 
Ada yang beropini bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi yaitu hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan. 
4. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman 
Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah masalah menyerupai ini sebelumnya pernah terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip penhambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi dan kondisi ketika ini. Jika masih sama kemudian sanggup menerapkan cara yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul. 
5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang 
Banyak sekali keputusan yang diambil lantaran wewenang(authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai kiprah dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien Keputusan yang berdasarkan wewenang mempunyai beberapa keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain: 
1. Banyak diterimanya oleh bawahan, mempunyai otentisitas (otentik), dan juga lantaran didasari wewenang yang resmi maka akan lebih permanent sifatnya. 
2. Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan mengakibatkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas. 
2.6 Faktor-Faktor yang Berpengaruh dalam Pengambilan Keputusan 
Untuk menentukan pilihan dari aneka macam teori pengambilan keputusan baik itu rasional, inkremental atau pengamatan terpadu dengan beberapa alternatif pilihan yang tersedia. Tentu masing-masing harus mempunyai dasar (nilai-nilai, norma-norma, atau aliran tertentu) yang dipakai sebagai landasan dalam menentukan pilihan teori yang tepat. 
Menurut Terry (1989) dalam blog Komunitas Diamond faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut: 
  1. Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan; 
  2. Setiap keputusan nantinya harus sanggup dijadikan materi untuk mencapai tujuan organisasi; 
  3. Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain; 
  4. Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan; 
  5. Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik; 
  6. Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama; 
  7. Diperlukan pengambilan keputusan yang mudah untuk mendapat hasil yang baik; 
  8. Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, supaya sanggup diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; dan 
  9. Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya. 
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut menghipnotis pengambilan keputusan: 
  1. Fisik; Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, menyerupai rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laris yang mengakibatkan rasa tidak senang, sebaliknya menentukan tingkah laris yang memperlihatkan kesenangan. 
  2. Emosional; Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subyektif. 
  3. Rasional; Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapat informasi, memahami situasi dan aneka macam konsekuensinya. 
  4. Praktikal; Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuannya dalam bertindak. 
  5. Interpersonal; Didasarkan pada efek jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainnya sanggup menghipnotis tindakan individual. 
  6. Struktural; Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memperlihatkan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laris tertentu. 
Selanjutnya, John D.Miller dalam Imam Murtono (2009) menjelaskan faktor-faktor yang besar lengan berkuasa dalam pengambilan keputusan adalah: jenis kelamin laki-laki atau wanita, peranan pengambilan keputusan, dan keterbatasan kemampuan. Dalam pengambilan suatu keputusan individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian, dan kecenderungan dalam pengambilan risiko. 
Pertama, nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang dipakai seseorang kalau ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilai-nilai ini telah tertanam semenjak kecil melalui suatu proses berguru dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berpikir untuk menyusun atau menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk menang. 
Kedua, kepribadian. Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis menyerupai kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang besar lengan berkuasa terhadap keputusan yang dibuat, menyerupai ideologi versus kekuasaan dan emosional versus objektivitas. Beberapa pengambil keputusan mempunyai suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi. 
Ketiga, kecenderungan terhadap pengambilan risiko. Untuk meningkatkan kecakapan dalam menciptakan keputusan, perawat harus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi risiko, lantaran keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. Ketidakpastian yaitu kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan risiko yaitu kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan mempunyai pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak sanggup mengendalikannya. Lebih sulit menciptakan keputusan di bawah ketidakpastian dibanding di bawah kondisi bahaya. 
2.7 Pengambilan Keputusan Dalam Kelompok 
Pengambilan keputusan merupakan salah satu fungsi penting di dalam suatu kelompok. Secara umum keputusan di dalam kelompok sanggup dibedakan atas 2 jenis: keputusan yang terprogram dan keputusan yang Tidak terprogram. 
Keputusan Terprogram adalah: keputusan yg menyangkut aspek-aspek yg rutin sehiga keputusan tersebut dilakukan berulang-ulang sepanjang hidup kelompok tersebut. Misalnya, keputusan wacana materi baku, proses produksi, dan sebagainya. Karena menyangkut aspek rutin dan berulang- ulang, keputusan jenis ini biasanya sudah mempunyai kerangka prosedural wacana pengambilan keputusannya. 
Keputusan Tidak Terprogram adalah: keputusan yang menyangkut hal-hal gres dan belum pernah dilakukan di dalam kelompok. Misalnya,pengambilan keputusan pada ketika kelompok akan membuka perjuangan atau kegiatan yang baru. 
Hal-hal berikut ini berafiliasi dengan proses kelompok ketika menciptakan keputusan tak terprogram, yaitu: 
1. Penetapan tujuan: kelompok lebih unggul dibandingkan individu alasannya yaitu kelompok mempunyai pengetahuan lebih banyak dibandingkan individu. 
2. Identifikasi alternatif: perjuangan individu sebagai cuilan dari anggota kelompok akan merangsang pencarian lebih luas diberbagai area fungsional di organisasi. 
3. Evaluasi alternatif: pertimbangan kolektif dari kelompok dengan aneka macam sudut pandang lebih unggul dibanding individu. 
4. Memilih alternatif: interaksi kelompok dan pencapaian konsensus biasanya menghasilkan penerimaan resiko lebih besar dibanding individu. Keputusan kelompok juga biasanya lebih sanggup diterima sebagai hasil dari partisipasi bersama. 
5. Implementasi keputusan: dibentuk oleh kelompok atau tidak, penyelesaian biasanya dilakukan oleh seorang saja manajer. Individu bertanggungjawab untuk implementasi keputusan kelompok. 
2.8 Implikasi Manajerial dalam Pengambilan Keputusan 
Proses Pengambilan Keputusan dalam partisipatif dalam organisasi sekolah Manajerial yang baik. Rendahnya kemapuan kepala sekolah akan besar lengan berkuasa terhadap perolehan proteksi dari masyarakat khususnya proteksi dalam mengambilan keputusan yang dikeluarkan sekolah terkait dengan kebijakan dan planning kegiatan pengembangan sekolah. 
Implikasi Manajerial dalam Pengambilan Keputusan sebagai berikut:
1. Gaya pengambilan keputusan;
2.Gaya Direktif (Pengarahan) 
Adalah Suatu gaya pengambilan keputusan dengan ambiguitas/ketidakjelasan yang rendah dan cara berpikirnya yang rasional 
3.Gaya Analitis 
Adalah suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi terhadap ambiguitas/ketidakjelasan dan cara berpikirnya rasional
4.Gaya Konseptual 
Adalah suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi untuk ambiquitas /ketidakjelasan dan cara berpikir intuitif yang tinggi juga
5. Gaya Perilaku 
Adalah suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang rendah untuk ambiquitas/ketidakjelasan dengan cara berpikir intuitif yang tinggi 
BAB III 

PENUTUP 
3.1 KESIMPULAN 
Dari pemaparan materi di atas sanggup di simpulkan bahwa pada hakikatnya pengambilan keputusan yaitu suatu pendekatan sistematis terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data. Penentuan yang matang dari altenatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang berdasarkan perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. 
Dee Ann Gullies (1996) menjelaskan definisi Pengambilan keputusan sebagai suatu proses kognitif yang tidak tergesa-gesa terdiri dari rangkaian tahapan yang sanggup dianalisa, diperhalus, dan dipadukan untuk menghasilkan ketepatan serta ketelitian yang lebih besar dalam menuntaskan masalah dan memulai tindakan. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Handoko (1997), pembuatan keputusan yaitu kegiatan yang menggambarkan proses melalui serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu. 
3.2 SARAN 
Dalam mengambil keputusan dalam manajemen, kita perlu mempelajari beberapa aspek yang sudah kami susun dalam Pemabahasan makalah ini, kita semua niscaya tidak menginginkan keputusan yang kita ambil yaitu keputusan yang bisa menciptakan kita menyesal di kemudian hari. Untuk itu dalam makalah ini sangat perlu dan dibutuhkan oleh semua orang khususnya mahasiswa yang masih memerlukan ilmu dan pengetahuan dalam pengambilan keputusan untuk menentukan kehidupan dimasa yang akan tiba supaya menjadi insan yang lebih baik. 
DAFTAR PUSTAKA 
Syamsi, I. 2000. Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi. Jakarta: Bumi Aksara. Diakses 10 September 2017, pukul 23:10 WIB 
Eddy Herjanto, Manajemen Operasi, PT. Grasindo, Jakarta, 2008 
Mulyono.2011. Teori Pengambilan Keputusan, http:// Mulyono.Blogspot.com,diaksek 10 September 2017, pukul 21:06 WIB
Anneahira.2011.Pengambilan Kepu usan. Hhtp://Anneahira.Blogspot.com,diakses 10 September 2017, pukul 19:35 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.