Home Perilaku Organisasi Makalah Sikap Individu Dalam Organisasi, Karakteristik Biografis, Kemampuan, Kepribadian Dan Pembelajaran

Makalah Sikap Individu Dalam Organisasi, Karakteristik Biografis, Kemampuan, Kepribadian Dan Pembelajaran

477
0
BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

 organisasi perlu meningkatkan kinerjanya supaya bisa bersaing dalam banyak konteks Makalah Perilaku Individu Dalam Organisasi, karakteristik biografis, kemampuan, kepribadian dan pembelajaran

Dalam menghadapi masa globalisasi ini, organisasi perlu meningkatkan kinerjanya supaya bisa bersaing dalam banyak konteks, yang bermakna bahwa kapasitas untuk berubah darisebuah organisasi penting sekali. Organisasi yang harus berubah ialah organisasi yangmenggabungkan pembelajaran dalam kawasan kerjanya. Upayanya berupa kualitas penyesuaian danaspek mendasar dimana individu harus melihat kedalam perubahan suatu paradigma. 

Dalam kontek ini individu haruslah merubah sikap atau dengan kata lain menyesuaikan perkembangan jaman lantaran individu dianggap sebagai penentu maju mundurnya suatu organisasi.Dikarenakan individu ialah segalanya bagi perkembangan organisasi, mungkin bisadikata bahwa organisasi tanpa individu ialah suatu kebohongan belaka atau tak mungkin. Darihal ini maka kita lihat mengenai sebagian sifat dan pemikiran individu yang harus dimiliki demi terwujudnya suatu organisasi yang baik. Walaupun tanpa meniadakan komponen – komponen lain menyerupai teknologi.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari karakteristik biografis ?
2. Apa pengertian dari kemapuan ?
3. Apa pengertian dari kepribadian ?
4. Apa pengertian dari pembelajaran ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari karakteristik biografis !
2. Untuk mengetahui pengertian dari kemapuan !
3. Untuk mengetahui pengertian dari kepribadian !
4. Untuk mengetahui pengertian dari pembelajaran 1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Biografis 
Karakteristik biografis merupakan karakterisitik pribadi)perorangan, menyerupai usia, jeniskelamin, status perkawinan, jumlah tanggungan dan masa kerja, yang diperoleh se!ara mudahdan objektif dari arsip pribadi seseorang. 
Karakteristik biografis dibagi menjadi beberapa pecahan yaitu: 
1. Usia 
Hubungan antara usia dan kinerja diperkirakan akan terus menjadi gosip yang penting dimasa yang akan datang. Dan hal ini disebabkan setidaknya oleh 3 alasan, yaitu: 

  • Keyakinan yang meluas bahwa kinerja merosot seiring dengan usia 
  • Realita bahwa angkatan kerja menua 
  • Mulai adanya perundang-undangan yang melarang segala ma!am bentuk pensiun yang bersifat perintah. 
Usia mempunyai kekerabatan positif dengan tingkat keluar masuknya pegawai, produktifitas dan kepuasan kerja. “Semakin renta usia, semakin kecil untuk keluar dari suatu perusahaan, semakin produktif dan semakin menikmati kepuasan akan pekerjaan. Tetapi usia berbanding terbalik dengan tingkat kemungkinan walaupun tidak mutlak. Riset terakhir menemukan bahwa umur dan kinerja tidak mempunyai hubungan. Mc Donald yang mengerjakankaryawan yang sudah berumur di atas 55 tahun ternyata kinerja mereka tidak kalah dengan yanglebih muda. 
2. Jenis Kelamin 
Dari segi jenis kelamin, umumnya tidak ada perbedaan yang konsisten antara laki-laki dan perempuan dalam hal kemampuan memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, produktivitas pekerjaan, kepuasan kerja atau kemampuan belajar. Namun hasil studi memperlihatkan bahwa perempuan lebih bersedia mematuhi wewenang, dibandingkan laki-laki yang lebih berangasan dan lebih besar kemungkinannya dalam mempunyai pengharapan untuk sukses, namun tetap saja perbedaannya kecil. 
Biasanya, yang membuat adanya perbedaan ialah lantaran posisi perempuan sebagai ibu yang juga harus merawat anak-anaknya. ni juga yang mungkin menimbulkan anggapan bahwa wanitalebih sering mangkir daripada pria. (ika belum dewasa sakit, tentulah ibu yang akan merawat danmenemani dirumah. 
3. Setatus Perkawinan 
Hasil riset memperlihatkan bahwa pegawai yang sudah berkeluarga tingkat absennya lebih rendah dan juga mengalami pergantian yang rendah serta cenderung lebih puas dari pada yang belum berkeluarga. tidak ada uckup bukti dari hasil riset bahwa terdapat dampak produktivitas. 
4. Jumlah Tanggungan 
Nirman (1999) menulis bahwa tidak ada informasi yang cukup wacana kekerabatan antara jumlah tanggungan seseorang dengan produktivitasnya. tetapi, jumlah anak yang dimiliki oleh pekerja berafiliasi erat dengan tingkat ketidakhadiran dan kepuasan kerjanya. 
5. Masa Kerja 
Masa kerja ialah peramal yang cukup baik mengenai ke!enderungan karyawan menyerupai karyawan yang telah menjalankan suatu pekerjaan dalam masa tertentu, produktivitas dan kepuasannya akan meningkat, sementara tingkat kemangkiran berkurang dan kemungkinan keluar masuk karyawan lebih kecil. Masa kerja juga tidak mempunyai alasan bahwa karyawan yang lebih usang bekerja (senior) akan lebih produktif dari pada yang junior. “(senioritas)/masa kerja berkaitan secara negatif dengan kemangkiran dan dengan tingkat turnover. Berikut ilustrasinya: 
1. Masa kerja tinggi = tingkat ketidakhadiran dan turnover rendah 
2. Masa kerja rendah = tingkat ketidakhadiran dan turnover tinggi 
Kedua hal di atas berkaitan secara negatif 
1. Masa kerja tinggi = kepuasan kerja tinggi 
2. Masa kerja rendah = kepuasan kerja rendah 
Kedua hal di atas berkaitan secara positif 
2.2 Kemampuan 
Kemampuan ialah suatu kapasitas yang dimiliki seorang individu untuk mengerjakan aneka macam kiprah suatu pekerjaan (Robbins, 2001). Ada dua jenis kemampuan, yaitu: 
1. Kemampuan Intelektual 
Kemampuan intelektual merupakan kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan atau menjalankan kegiatan mental. (Robbins, 2001) mencatat 7 (tujuh) dimensi yang membentuk kemampuan intelektual, yakni: 
  • Kecerdasan numerik ialah kemampuan berhitung dengan cepat dan tepat, 
  • Pemahaman verbal, yaitu kemampuan memahami apa yang dibaca atau didiengar, 
  • Kecepatan perseptual, yaitu kemampuan mengenal kemiripan dan perbedaan visual dengan cepat dan tepat, 
  • Penalaran induktif ialah kemampuan mengenal suatu urutan logis dalam satu duduk kasus dan pemecahannya, 
  • Penalaran deduktif ialah kemampuan memakai logika dan menilai implikasi dari suatu argument, 
  • Visualisasi ruang, yaitu kemampuan membayangkan bagaimana suatu obyek akan tampak seandainya posisi dalam ruang diubah, 
  • Ingatan, yaitu kemampuan menahan dan mengenang kembali pengalaman masa lalu. Beberapa profesi yang erat kaitannya dengan kemampuan intelektual diantaranya ialah akuntan, periset. 
2. Kemampuan Fisik 
Kemampuan fisik merupakan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menuntutdaya stamina, kecekatan dan keterampilan. Penelitian terhadap aneka macam persyaratan yang dibutuhkan dalam ratusan pekerjaan telah mengidentifikasi sembilan kemampuan dasar yangtercakup dalam kinerja dari tugas-tugas fisik, yaitu: kekuatan dinamis, kekuatan tubuh,kekuatan statis, kekuatan eksplosif, fleksibilitas luas, fleksibilitas dinamis, koordinasi tubuh,keseimbangan dan stamina. “setiap individu mempunyai kemampuan dasar tersebut secara berbeda- beda. Kemampuan intelektual berperanan besar dalam pekerjaan yang rumit, sedangkan kemampuan fisik hanya menguras kapabilitas fisik. 


2.3 Kepribadian 
Para psikolog cenderung mengartikan kepribadian sebagai suatu konsep dinamis yang mendeskripsikan pertumbuhan dan perkembangan seluruh sistem psikologis seseorang. Definisi kepribadian yang paling sering dipakai dibentuk oleh Gordon Allport hampir 76 tahun yang lalu.

Ia menyampaikan bahwa kepribadian adalah: organisasi dinamis dalam suatu sistem psikofisiologis individu yang memilih caranya untuk mengikuti keadaan se!ara unik terhadap lingkungannya. Kepribadian juga sanggup diartikan keseluruhan cara dimana seorang individu bereaksi dan berinteraksi. kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bias diukur yang ditunjukkan oleh seseorang. 

  • Menurut Umar Nimran, kepribadian ialah keseluruhan cara bagaimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain yang digambarkan dalam bentuk sifat-sifat yang sanggup diukur dan dilihatkan seseorang. 
  • Menurut Robbins, kepribadian itu sebagai total dari cara-cara dimana seseorang)individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang lain, yang digambarkan dalam bentuk sifat-sifat yang sanggup diukur dan sanggup diperlihatkan. 
  • Menurut Robert Kreitner dan Angelo Kinicki, mendefinisikan kepribadian sebagai adonan dari ciri fisik dan mental yang bersifat tetap yang memberi identitas pada seseorang individu. Faktor-faktor yang besar lengan berkuasa terhadap kepribadian seseorang berdasarkan Robbins disebutkan ada tiga, yaitu: 
1. Faktor Keturunan 
Keturunan merujuk pada faktor genetis seorang individu. Tinggi fisik, bentuk wajah,gender, temperamen, komposisi otot dan refleks, tingkat energi dan irama biologis ialah karakteristik yang pada umumnya dianggap, entah sepenuhnya atau secara substansial, dipengaruhi oleh siapa orang tua, yaitu komposisi biologis, psikologis dan psikologis bawaan mereka.

Pendekatan keturunan beropini bahwa klarifikasi pokok mengenai kepribadian seseorang ialah struktur molekul dari gen yang terdapat dalam kromosom. Terdapat tiga dasar penelitian berbeda yang memperlihatkan sejumlah dapat dipercaya terhadap argumen bahwa faktor keturunan mempunyai kiprah penting dalam memilih kepribadian seseorang. Dasar pertama berfokus pada penyokong genetis dari sikap dan temperamen anak-anak. Dasar kedua berfokus pada belum dewasa kembar yang dipisahkan semenjak lahir. Dasar ketigameneliti konsistensi kepuasan kerja dari waktu ke waktu dan dalam aneka macam situasi. 

2. Factor Liangkungan 
Factor lain yang mempunyai dampak cukup besar terhadap pembentukan aksara kita ialah lingkungan dimana kita tumbuh dan dibesarkan norma dalam keluarga, teman-teman, dan kelompok sosial dan pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Faktor-faktor lingkungan ini mempunyai kiprah dalam membentuk kepribadian kita. 
3. Faktor Situasi 
Factor lainnya ialah situasi. ini berarti, kepribadian sesorang yang banyak ditentukan oleh bawaan lahir, lingkungan yang relatif stabil, akan sanggup berubah lantaran adanya kondisisituasi tertentu yang berubah. 
a. Tipe – tipe Keperibadian 
Holland dalam Haryono (2001) memformulasikan tipe-tipe kepribadian sebagai berikut: 
  • Tipe Realistik 
Mereka yang berada area ini ialah cenderung sebagai orang yang mempunyai keengganansosial, agak pemalu, bersikap menyesuaikan diri, materialistik, polos, keras hati, praktis, suka berterus terang, asli, maskulin dan cenderung atletis, stabil, tidak ingin menonjolkan diri,sangat hemat, kurang berpandangan luas dan kurang mau terlihat. 
  • Tipe Investigatif 
Mereka yang berada dalam tipe ini cenderung berhati-hati, kritis, ingin tahu, mandiri, intelektual ,instropektif, introvert, metodik, agak pasif, pesimis, teliti, rasional, pendiam,menahan diri dan kurang populer. 
  • Tipe Arttistik 
Orang-orang yang masuk dalam tipe ini cenderung untuk memperlihatkan dirinya sebagai orang yang agak sulit (complicated), tidak teratur, emosional, tidak materaialistik, idealistis, imaginitif, tidak praktis, impulsif, mandiri, instropektif, intuitif, tidak mengikuti keadaan dan asli asli. 
  • Tipe Sosial 
Mereka yang tergolong dalam tipe sosial ini cenderung untuk memperlihatkan dirinya sebagai orang yang suka kerjasama, suka menolong, sopan santun, murah hati, agak konservatif, idealistis, persuasif, bertanggung jawab, bersifat sosial, bijaksana dan penuh pengertian. 
  • Tipe Enterprising 
Mereka yang masuk dalam tipe ini cenderung memperlihatkan dirinya sebagai orang yang gigih mencapai keuntungan, petualang, bersemangat (ambisi), argumentatif, dominan, energik, suka menonjolkan diri, suka spekulasi dan membujuk, impulsif, optimis, pencari kesenangan, percaya diri, sosial dan suka bi!ara. 
  • Tipe Konvensional 
Mereka yang masuk dalam tipe ini ialah orang-orang yang gampang menyesuaikan diri, teliti, dipensif, efesien, kurang fleksibel, pemalu, patuh, sopan santun, teratur dan cenderung rutin, keras hati, praktis, tenang, kurang imajinasi dan kurang mengontrol diri. 
2.4 Pembelajaran 
Definisi pembelajaran secara umum ialah setiap perubahan sikap yang relatif permanen, terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Ironisnya disini kita sanggup menyampaikan bahwa perubahan sikap memperlihatkan bahwa pembelajaran telah terjadi dan pembelajaran ialah perubahan perilaku.

Sedangkan definisi lain berdasarkan Robbins 2001 menyampaikan pembelajaran dalam prespektif sikap keorganisasian ialah proses perubahan yang relatif konstan dalam tingkah laris yang terjadi lantaran pengalaman atau pelatihan. Menurut Robbins ada 3 teori untuk menjelaskan bagaimana orang mendapat pola-pola perilaku, yaitu sebagai berikut: 

a. Pengkondisian Klasik 
Pengkondisian klasik tumbuh berdasarkan eksperimen untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang bordering. Model ini diperkenalkan oleh spesialis fisiolog Rusia berjulukan Ivan Pavlov pada tahun 190-an.

Pada dasarnya, model ini mempelajari sebuah respons berkondisi meliputi pembangunan kekerabatan antara rangsangan berkondisi dan rangsangan tidak berkondisi. ketika rangsangan tersebut, yang satu menarik hati dan yang lainnya netral, dipasangkan rangsangan yang netral menjadi sebuah rangsangan berkondisi dan dengan demikian mengambil sifat-sifat dari rangsangan tidak berkondisi tersebut. 

b. Pengkondiasian Operant 
Pengkondisian operant menyatakan bahwa sikap merupakan fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya. Individu berguru berperilaku untuk mendapat sesuatu yang mereka inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan. Perilaku operant berarti sikap secara 
sukarela atau yang dipelajari, kebalikan dari sikap refleksi atau tidak dipelajari. Kecendrungan untuk mengulangi sikap menyerupai ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku. Dengan demikian, penegasan akanmemperkuat sebuah sikap dan meningkatkan kemungkinan sikap tersebut diulangi.

Psikolog Harvard B.F Skinner, mengemukakan bahwa membuat konsekuensi yangmenyenangkan untuk mengikuti bentuk sikap tertentu akan meningkatkan frekuensi sikap tersebut. Ia mendemonstrasikan bahwa individu berkemungkinan besar akan melaksanakan sikap yang diharapkan kalau mereka ditegaskan secara positif untuk melakukannya, paling efektif, penghargaan diberikan segera sehabis respons yang diharapkan diperoleh dan sikap yang tidak diberi penghargaan atau dihukum, berkemungkinan lebih kecil untuk di ulang. 

c. Pembelajaran Sosial 
Seseorang sanggup berguru dengan mengamati apa yang terjadi pada individu lain dan hanya dengan diberi tahu mengenai sesuatu, menyerupai berguru dari pengalaman langsung. Disini teori pembelajaran sosial ialah sebuah ekspansi dari pengkondisian operant. teori ini berasumsi bahwa sebuah fungsi dari konsekuensi- teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan atau observasi dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran.

 Individu merespons pada bagaimana mereka mencicipi dan mendefinisikan konsekuensi, bukan pada konsekuensi objektif itu sendiri. ada empat model yang telah ditemukan oleh Robbins (2001) untuk memilih dampak sebuah model pada seorang individu, yaitu: 

1. Proses Perhatian, Individu berminat berguru dari suatu model bila model itu cukup dikenal, cukup sanggup menarik perhatiannya sedemikian rupa serta apa yang disajikan penting buatnya. 
2. Proses Penyimpanan, Pengaruh dari suatu model bergantung kepada seberapa baik individu mengingat tindakan model sehabis model tersebut tidak lagi tersedia. 
3. Proses Reproduksi Motor, sehabis seseorang melihat sebuah sikap gres dengan mengamati model, pengamatan tersebut harus diubah menjadi tindakan. Proses ini kemudian memperlihatkan bahwa individu itu sanggup melaksanakan acara yang dicontohkan oleh model tersebut. 
4. Proses Penegasan, individu akan termotivasi untuk menampilkan sikap yang dicontohkan kalau tersedia insentif positif atau penghargaan. Perilaku yang ditegaskan secara positif akan mendapat lebih banyak perhatian, dipelajari dengan lebih baik dan dilakukan lebih sering. 

BAB III 


PENUTUP 

3.1 KESIMPULAN 
Setiap individu ialah pribadi yang unik. Manusia pada hakekatnya ialah kertas kosongyang di bentuk oleh lingkungan mereka. Perilaku insan merupakan fungsi dari interaksi antara person atau individu dengan lingkungannya. Mereka berperilaku berbeda satu sama lain lantaran ditentukan oleh masing – masing lingkungan yang memang berbeda.

Secara biografis individu mempunyai karakteristik yang terang bisa terbata, menyerupai usia, jenis kelamin, status perkawinan, yang semua itu mempunyai kekerabatan signifikan dengan produktivitasatau kinerja dalam suatu organisasi dan merupakan gosip penting dalam dekade mendatang.

Dari kajian beberapa bukti riset, memunculkan kesimpulan bahwa usia sepertinya tidak mempunyai kekerabatan dengan produktivitas. Dan para pekerja renta yang masa kerjanya panjang akan lebihkecil kemungkinannya untuk mengundurkan diri. 

Demikian pula dengan karyawan yang sudahmenikah, angka keabsenan menurun, angka pengunduran diri lebih rendah serta memperlihatkan kepuasan kerja yang lebih tinggi dari pada karyawan yang bujangan. Setiap individu pun mempunyai kemampuan yang berbeda, kemampuan secara eksklusif mensugesti tingkat kinerja dan kepuasan karyawan melalui kesesuaian kemampuan pekerjaan.

Dari sisi pembentukan sikap dan sifat manusia, sikap individu akan berbeda dikarenakan oleh kemampuan yang dimilikinya juga berbeda. Pembelajaran merupakan bukti dari perubahan sikap individu. Pembelajaran terjadi setiap dikala dan relatif permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman. 

DAFTAR PUSTAKA 
Stepphen P Robbins – Timothy A Judge, 2009, Organizational Behavior 13 th edition, (Terjemahan Diana Angelina) Pearson Edudtion Inc Salemba Empat Ardana (dkk), 2008, Perilaku Organisasi, Fakultas Ekonomi, UNUD, Bali 
Makalah Perilaku Individu dalam Organisasi,1 Januari 2013 oleh www. Syardiangsyah. Com https://rajasoal.com/?s=makalah-perilaku-kelompok-dalam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.